Rabu, 20 Juni 2012

KAKAK.. TERIMA KASIH..


PROLOG
Tanpa kusadari,ia berlari ke arahku dan langsung mendekapku dari belakang. Ia membisikkan sesuatu. Mataku membelalak lebar, air mataku seketika mengalir. Dengan masih memandangi etalase toko, aku tersenyum bahagia. “…….. akhirnya..”
----------------------------------------------------------------------

“hihi.. dia sangat manis ketika tidur..” q belai tulang hidungnya yang mancung dgn jari telunjukku. Kupandang lekat bulu matanya yang panjang, rambutnya yang hitam, tebal, ikal, dan sedikit kaku. Perlahan-lahan ia membuka matanya. “aaarrrgghhhhh!!!! Kenapa kau ada di kamarku?!?!?!?!? Siapa yang mengijinkanmu masuk?????”
“hahahaha… ibumu yang mengijinkanku. Jam berapa sekarang? Kakak tidak berangkat kuliah?”
“apa sekarang sudah siang?”
Tanpa sempat kujawab, ia sudah berlari ke kamar mandi. “hey! Kak Nam Ki Jun! kakak tidak ingat hari ini kuliah jam 10? Ini masih jam 8!!! Hahaha..”
Ia langsung berhenti dan menoleh padaku. “aaiiissshhh.. dasar!!” ia terlihat kesal. Aku hanya tertawa terkekeh.
Fuhhh.. dia terlalu polos, tidak peka, bodoh atau bagaimana? Sampai sekarang ia tidak merasa kalau aku suka padanya? Padahal aku sudah memeberi sinyal sinyal padanya. Daripada hatiku sakit, aku akan bertindak duluan. Dia terlalu pemalu untuk kudekati.
***
“kakak, kau sudah ujian akhir? Bukankah tugas akhirmu sudah kau selesaikan?” aku melempar sekaleng soda agak jauh darinya. Happ! Ia menangkapnya.
“yupp.. sebentar lagi aku ujian, lulus, lalu wisuda. Jantungku berdebar-debar tiap mengingatnya. Aku iri padamu, kau hanya tinggal menunggu wisuda.”
“jangan begitu, jumlah semesterku memang lebih sedikit, tapi gelarku juga lebih rendah dari kakak..” aku mendengus kesal.
“hahaha.. kau benar juga…” ia tertawa untuk menyenangkan hatinya.
“kakak.. aku harus katakan sesuatu..”
“katakan saja..”
“aku menyukai kakak..”
“apa kau bercanda?!?? Kau sudah seperti adik bagiku.”
“aku serius.. aku tak bisa membohongi perasaanku.”
“aku bingung harus berkata apa..”
“tak perlu repot-repot, aku hanya ingin menyampaikan perasaaanku. Daripada aku cemburu melihat kakak dengan gadis lain..”
“aku harus memikirkannya..”Ki Jun beranjak dari tempat duduknya. Namun aku segera mencengkeram lengannya.
“kakak.. tolong jangan jauhi aku setelah ini.. jangan berubah karna aku mengatakan ini… tolong..”
Bisa kudengar saat ia menghembuskan nafas, “aku tak tahu harus bagaimana.. tapi satu hal yang bisa kujanjikan, aku tak akan menjauhimu..” kulepaskan cengkeramanku. Ia pergi. Kupandang langit yang kian redup. Tak panas, tak pula mendung. Setelah ini apa? Aku benar-benar takut ia akan menjauhiku dan merubah perlakuannya padaku.
***
Brukk!
“ah, kakak?” aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang menabrakku. Ia lalu tersenyum padaku.
“kenapa lesu? Kau ada masalah? Ayo critakan padaku.” Kami lalu duduk di sebuah bangku.
“aku… hanya bingung… dan takut..”
“takut karna apa?”
“hmmhh.. aku bingung bagaimana mengatakannya.” Aku mengulurkan tanganku.
“kau mau apa?” ia menjauhkan badannya.
“aku mau menyentuh rambut kakak, apa tidak boleh?” tanyaku masih dengan wajah lesu.
“tidak boleh!”
“kakak yakin?”
“hmm.. baiklah, tapi jangan lama lama..” aku membelai rambutnya yang menurutku indah.. memainkannya sambil tersenyum riang.. “perasaaanmu sudah lebih baik?”
“ya.. lebih baik.. sangat baik..”
“hmm… Kang Sae Ra, aku sudah mempertimbangkannya. Aku akan mencoba melihatmu sebagai seorang wanita, bukan sebagai adik. Karna kau.. orang yang berharga bagiku..”
“Benarkah?!?” aku tersenyum lebar.
“uh-huh..”
aku hampir akan berteriak karna saking bahagianya.
“ah! Aku lupa ada janji! Aku pergi kak!” sambungku sambil berlari tanpa menengok ke Ki Jun. kata kata itu membuatku sangat bahagia.. semoga aku tidak menabrak tiang listrik karna terus memikirkan kata kata kak Ki Jun tadi..
***
Ya, kami sudah pacaran, tapi ayahku maupun ayahnya tidak setuju kalau kami menikah. Padahal dahulu mereka adalah rekan bisnis. Kenapa pekerjaan dibawa ke urusan pribadi? Urusan pribadi kami? Tak bisakah mereka berdamai?
“Kang Sae Ra!!!!”  apa??? Ayahku??
“kakak! Ayahku di belakang kita! Ayo lari!” kami seperti kucing dan anjing. Selalu kejar-kejaran. Entah sampai kapan ini akan berlangsung. Tapi jujur, aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat selalu lari menghindar dari ayah kami.
“kita kesini!” Ki Jun menarikku ke sebuah gang kecil. Ayah melewati kami.
“hah.. hah.. sudah..” denga nafas ngos ngosan Ki Jun duduk menyandar ke dinding sebuah bangunan. Aku duduk di sampingnya.
“kakak.. sampai kapan kita akan seperti ini?” air mataku mengallir deras. Membuat pandanganku kabur karna terhalang oleh air mata.
“kau gadis yang kuat.. bersabarlah sebentar lagi…” ia memelukku dengan penuh kasih sayang
“a.. aku.. ha..hampir.. menye..rah..” dengan nafas tersengal-sengalbaku mencoba berbicara.
“tak apa.. ada aku  disisimu..”
***
“berulang kali ayah katakan!!! Jangan temui pria itu lagi!!! Dia anak musuh ayah!! Berapa kali ayah harus katakan padamu!!” ayah membentakku, menggebrak meja, memecahkan piring. Aku benci ayah yang seperti ini. Aku merindukan ayah yang dulu.
“kenapa urusan pekerjaan dibawa ke urusan pribadi??!? Apa hubungan kami dengan pekerjaan kalian?!?!? Apa yang salah kalau kami punya hubungan?? Tidakkah kau memikirkan perasaan anakmu?!?!?!?” aku berteriak sejadinya pada ayahku.
“Kang Sae Ra!!!!!” ayah mencoba menamparku. Namun bukannya menampar, ia justru meninju tangannya ke tembok. Ia lalu menyeretku ke kamar mandi. Sebelum pintunya ditutup, aku berhasil menahannya dengan tanganku.
“ayah… aku rindu ayah yang dulu.. sangat rindu..” air mataku mengalir lagi. Semua emosiku keluar. Marah, sedih, kecewa, takut, rindu, sakit..
Ayah kembali menutup pintu. Ia mengunciku di kamar mandi.
***
“ayahmu lembur juga kan? Ayo jalan-jalan..”
“aku ingin ke myeongdong…” jawabku sambil tersenyum.
“ayo..” Ki Jun menarik tanganku. Kulihat ia tersenyum.
Kami jalan-jalan membeli pernak pernik. Entah gantungan ponsel, gantungan kunci, bando devil, kaos pasangan, dan lain lain.
Aku berhenti di sebuah toko. Aku memandangi etalase toko itu. Sebuah gaun pengantin. Gaun yang indah.. sangat indah.. aku ingin sekali memilikinya. Andai saja ayah kami…
“Sae Ra, kau tunggu disini.. aku akan mengambil kantong yang satunya. Aku meniggalkannya di halte.” Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari etalase toko. Ki Jun berjalan cepat menuju halte.
“ahh.. ini dia..” ia mengambil kantong plastic berisi gantungan. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. “dari ayah? Dari ayah sae ra juga?” ia menerima 2 email yang isinya sama.
~maafkan aku. Ku akui aku salah.. aku merestui kalian, kita tentukan tanggal pernikahan.~
“aku tidak salah baca kan?” gumamnya. Ki Jun “hang” sesaat.


Ki Jun berlari kembali ke tempat dimana aku berada. Ia mendekapku dari belakang. Ia membisikkan sesuatu ke telingaku. Mataku membelalak lebar, air matku mengalir seketika. Dengan masih memandangi etalase toko, aku tersenyum bahagia. “ahh.. akhirnya…”
Aku berbalik. Mata Nam Ki Jun berkaca-kaca. Ia tersenyum padaku.
“kakak.. jangan menangis… ayo kita mulai lagi semuanya.. tanpa rasa takut..”
============END===============
terima kasih sudah menyempatkan diri membaca cerpenku yang super duper  gaje ini. Beberapa scene aku buat sesuai perasaanku,hehe. yang lain aku karang karang sendiri, hahahaha..
klo mengingatkan pada sesuatu, silahkan PM aja, haha
mengenai karakter ayah yang pemarah.. aku bersyukur ayahku tidak pemarah, walaupun agak cerewet =_=’  (husss!! Beraninya ngomongin orang tua di belakang!!)

0 komentar:

Poskan Komentar