Senin, 18 Juni 2012

*********** NONA!! JADILAH MILIKKU!! ending part*********

Title: NONA!! JADILAH MILIKKU!!
Author: Arlita
Genre: Drama
Length: part 3 of 3
Cast:
1. Shiniichi Kagurazaka
2. Orihime Inoue
3. Izumi Sato (Chicko)
3. Tuan Inoue (ayah Orihime)
4. Nyonya Inoue (Ibu Orihime)
5. Hayato Inoue (kakak laki-laki Orihime)


FLASHBACK
(“kita temui orang tuamu besok. Apapun yang terjadi, kita tidak boleh berpisah.”)


“izinkan saya menikahi putri Tuan!” Shin bersujud hormat pada Tuan dan Nyonya Inoue.
“izinkan saya menikahi putri tuan!” Shin terus saja mengulangi perkataanya dan terus saja bersujud. Orihime di sampingnya hanya menunduk.
“apa kau mencintai anakku dengan segenap hati dan jiwamu?” ekspresi Tuan Inoue terlihat sangat serius.
“aku mencintainya dengan segenap hati dan jiwaku!” ia membungkuk sedalam-dalamnya.
“apa pekerjaanmu?”
“saya manager bagian marketing, dan sekarang sedang dipromosikan sebagai kepala manager.”
“pekerjaanmu cukup menjanjikan. Aku bisa lihat sifatmu dari ekspresi, caramu berbicara, dan yang paling penting sorot matamu. Aku tahu kau orang yang baik. Tapi kau tahu kan, anakku punya darah bangsawan. Kalian tidak bisa bersatu.”
Dheggg!! Jantung Shin serasa berhenti berdetak sepersekian detik. Ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Tapi.. kenapa sesakit ini? Ia tidak pernah membayangkan kalau jawaban orang tua Orihime akan membuatnya sesakit ini. Air mata menetes di lantai. Orihime yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya, kini matanya penuh berisi air mata yang mengalir deras menuju lantai.
“ibuu!!” Orihime langsung berlari ke pelukan ibunya yang duduk di samping Tuan Inoue.
“aku mohon Tuan! Izinkan aku menikahi putrimu!!” Volume suara Shin menjadi lebih keras. Berulang-ulang ia bersujud di hadapan Tuan dan Nyonya Inoue. Tuan Inoue agak resah. Ia berhenti sejenak memikirkan sesuatu. Hayato Inoue yang mendengarkan dibalik kamarnya hanya bisa terdiam.
“kau boleh menikahi anakku.. tapi dengan syarat..” Suasana hening seketika.
“anakku.. kau harus melepaskan gelar kebangsawanmu. Harta, tanah, rumah, dan fasilitas serta perlakuan khusus yang kau dapat karna gelar kebangsawananmu, kau tidak akan mendapatkannya lagi. Kau juga harus tinggal di luar rumah kami. Itu juga peraturannya. Kau yakin mau melakukannya?” Orihime diam. Hening.
“aku bersedia, ayah..” semua terkejut dengan jawaban Orihime. Hayato di dalam kamarnya meneteskan air mata. Apakah ini artinya ia akan kehilangan adiknya? Ia dirundung kegalauan. (jhahahahaha.. orang jepang bisa galau juga ya? XD hehhh!! Ngrusak suasana. Lagi sedih tau!!)
Semua terkejut, tak terkecuali Shin. Ia terharu. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka Orihime rela berkorban demi dirinya.
“izumi-kun, kemari..” Tuan Inoue memanggil Chicko.
“karna kau kuberi amanat untuk menjadi sekretaris sekaligus untuk menjaga Oo-chan, aku tanya padamu.. kau tinggal bersama kami atau ikut dengan Oo-chan?”
Dengan yakin Chicko menjawab, “aku sangat berterimakasih karna kalian sudah mengangkatku menjadi keluarga kalian. Hari-hariku dihabiskan bersama Nona Inoue. Dia sudah seperti kakak perempuan sekaligus sahabat yang dekat dengan hatiku. Dan sebagai balas budi, aku akan ikut dengan nona..” Chihko membungkukkan badannya.
5 TAHUN KEMUDIAN
“kau sudah membawa pensil warnamu kan? Ayo kita berangkat, sayang.. ayah!! Ayo berangkat!!” Orihime menuntun gadis kecil yang kini memakai seragam sekolahnya, lengkat dengan tas dan tempat minum berwarna pink. “ibu janji membelikanku boneka nanti siang, kan?” anak itu bertanya pada ibunya dengan begitu polos. “tentu sayang, ibu akan membelikanmu boneka. Tapi kau harus menunjukkan gambarmu pada ibu..” Orihime tersenyum lalu membelai rambut hitam anak pertamanya yang baru berumur 4 tahun. “aku akan menggambar yang baaagus dan indah untuk ibu dan ayah.. juga paman dan bibi Sato..” nama gadis kecil itu Himiko Kagurazaka. “Himi-chan, ayo masuk mobil..” Shin memakai jas lalu mengambil kunci mobil dari sakunya. Ia masuk ke garasi.
“iya, ayah!!” Himiko begitu bersemangat. Dengan kaki mungilnya ia berlari ke arah garasi. “Himi-chan, hati-hati larinya, kau bisa jatuh.” Orihime mengkhawatirkan anaknya. Himiko berhenti lalu berbalik menunggu ibunya. Namun ia melihat seseorang yang tak dikenalnya. “ibu, siapa itu?” Himiko menunjuk ke belakang ibunya. Seorang wanita paruh baya berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca. “ibu..??” Orihime terkejut. “kenapa ibu tidak meneleponku dulu?” sambungnya. Nyonya Inoue memeluk erat Orihime. Air matanya tumpah ruah di baju Orihime. “aku tak sanggup berpisah denganmu, nak.. bicara lewat telepon tak mengobati rasa rinduku. 5 tahun tak bertemu.. kau sudah berubah sekarang..” Nyonya Inoue mempererat pelukannya. Tiba-tiba seorang pria paruh baya keluar daari dalam sebuah mobil.
“ayah?!?” Orihime setengah berteriak. Tuan Inoue berjalan menghampiri Orihime dan istrinya lalu memeluk mereka. Sungguh mengharukan.
“sayang, kenapa kau tidak masuk mo….” Shin tercengang. Ia membungkukkan badannya tanpa berkedip.
“lama tidak bertemu..” Tuan Inoue tersenyum.
“mereka siapa, ibu?” Himiko bertanya.
“mereka nenek dan kakekmu. Katamu kau ingin bertemu mereka, kan?”
Himiko berlari memeluk kaki neneknya. Nyonya Inoue lalu menggendongnya.
“kenapa nenek dan kakek tidak pernah ke rumahku? Kalian tidak sayang pada kami ya?” Tanya Himiko dengan wajahnya yang polos. “nenek dan kakek sibuk bekerja, cucuku. Jadi kami tidak sempat kesini.. sebenarnya kami iiingin sekali bertemu denganmu.” Nyonya Inoue tersenyum lalu mencium pipi gembung Himiko. “mana Izumi-kun?” Tanya Nyonya Inoue.
“ahh. Dia sudah berangkat kerja pagi-pagi. Kamar apartemennya persis di depan kami.” Jawab Orihime.
“sayang sekali aku tidak bisa menghadiri pernikahannya..” Nyonya Inoue tampak menyesal.
***
“kau sudah sekolah, sayang?” Nyonya Inoue tampak senang menggendong cucunya. Ia duduk di sofa apartemen Shin dan Orihime.
Aku ingin bicara denganmu..” Tuan Inoue memberi kode pada Shin. Mereka berjalan menjauh.
“bagaimana kabarmu?” Tuan Inoue memulai percakapan.
“aku baik, tuan..” Shin menjawab dengan ramah.
“panggil aku ayah..” senyum tulus mencuat dari balik kerutan-kerutannya.
Shin terkejut. “terima kasih ayah, karna sudah menerimaku!” Shin tersenyum riang namun air matanya hampir jatuh. Ia senang, kini keluarga istrinya sudah menerimanya.
“bagaimana menurutmu tentang Oo-chan?”
“dia.. wanita yang cantik.. dan anggun.. namun dibalik itu semua ia bagai seorang gadis kecil yang butuh perhatian orang di sekitarnya.. sebenarnya ia begitu rapuh..” jawab Shin.
“kau benar tentang itu. Ia selalu ingin memecahkan masalahnya sendirian. Ia takkan memberitahu orang tuanya sebelum ia merasa benar-benar kesulitan. Terkadang ia pergi tanpa pamit. Orihime jarang memberitahukan masalah-masalahnya karna ia tak ingin membuat kami khawatir. Tapi justru hal itu yang membuat kami khawatir padanya. Untung saja Izumi-kun bisa kami tanya tentang keadaan Oo-chan.”
“begitukah? Kalau begitu aku akan membujuknya untuk selalu menceritakan masalahnya padaku..”
Suasana hening sejenak..
“aku akan bermain dengan dengan cucuku.. temuilah istrimu..” Tuan Inoue menepuk bahu Shin lalu pergi. Shin berjalan ke puncak gedung. Istrinya pasti disana. Benar saja, Orihime sedang duduk termenung, namun tersirat kebahagiaan dalam senyum tipisnya. Angin bertiup dan dengan lembut menyapu wajah Orihime. Rambutnya yang hitam nan indah tersibak. Dalam hati Shin berkata, “aku tak salah memilih wanita,” ia menghampiri Orihime dan duduk di sampingnya. Orihime yang menyadari kedatangan Shin lalu menyandarkan kepalanya di bahu Shin. Shin lalu merangkul Orihime.
“apa kau sedang bahagia?” Tanya Shin seraya memandang langit cerah dengan angin sepoi-sepoi yang meniup lembut kepalanya.
“tentu saja.. kau juga bahagia kan? Sudah kubilang ini tidak akan merusak hubunganku dengan ayah dam ibu..”
“aku bahagia sekali..” Shin tersenyum hingga matanya menyipit.
“hey, kau sudah membeli boneka untuk Himi-chan? Orihime menjauh dari posisinya sebelumnya.
“hahaha.. tenang saja.. kemarin aku membeli 5 boneka untuknya, sekarang ada di laci.aku belum memberikannya.” Shin tertawa ringan. Ia lalu memeluk Orihime dan menepuk-nepuk punggungnya. “kau istri idamanku..” Shin masih menepuk-nepuk punggung Orihime. (wedeww.. mesra mesraan.. XD gangguin gih! #plaakk!! abaikan)
***
“sering-seringlah mampir ke rumah, kami akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Para pelayan pasti merindukanmu,” Tuan Inoue tersenyum.
“terima kasih ayah..” Orihime membalas senyuman ayahnya.
Shin tersenyum lebar, hari ini benar-benar sebuah kejutan baginya. Ia tertawa kecil dalam hati.
Hidup itu rumit, namun sebenarnya simpel. Namun kadangkala hidup manusia yang sederhana berubah menjadi super rumit. Itulah hidup. Biarkan warna-warnanya berbaur dan saling berdampingan. Hidup tanpa warna, tentu membosankan. Benar kan?
***************THE END***************
SUATU HARI
“kau yakin tidak ingin punya anak sekarang?” Shin melingkarkan tangannya di pinggang Orihime.
“bagaimana ya? Terserah kau saja..” Orihime tersenyum.
“terserah padaku ya?” Shin membelai lengan Orihime dengan lembut.
“uhuh..” jawab Orihime sambil menoleh ke belakang.
Shin mengecup lengan Orihime, “aku ingin punya anak sekarang!! Hahahahaha!!”
Shin menggendong Orihime ke kamar.

0 komentar:

Poskan Komentar