Senin, 18 Juni 2012

*** NONA!! JADILAH MILIKKU!! Part 1****

Title: NONA!! JADILAH MILIKKU!!
Author: Arlita
Genre: Drama
Length: part 1 of 3
Cast:
1. Shiniichi Kagurazaka
2. Orihime Inoue
3. Izumi Sato (Chicko)
3. Tuan Inoue (ayah Orihime)
4. Nyonya Inoue (Ibu Orihime)
5. Hayato Inoue (kakak laki-laki Orihime)

NARITA INTERNATIONAL AIRPORT, JAPAN
JUNE 21st , 2005 MUSIM PANAS
Seorang gadis muda membawa 2 koper besar menuju pintu masuk bandara. Ia memakai celana jeans dengan atasan casual. Ia juga memakai sunglass. Rambutnya lurus, hitam pekat, tebal, dengan panjang sebahu. Tiba-tiba ia berhenti. Ia melihat sekeliling, sepertinya ia mencari seseorang. Wajahnya berubah cemberut. Ia mengambil ponsel dari saku bajunya, “moshi-moshi, kau terlambat. Ada dimana kau sekarang?” rupanya ia menelepon seseorang. Dari seberang sana, seorang pemuda menjawab, “gomenasai, gomenasai. Aku terjebak macet. Di depan sana ada kecelakaan.”
“setengah jam lagi kita boarding. Tolong cepat.” Jawab gadis itu.
“baik nona, akan kuusahakan.” “domo arigato,” gadis itu mengakhiri percakapannya di telepon.
Ia kemudian berjalan menuju kursi  tunggu. Ia meletakkan koper besarnya di sampingnya. “haaahhh, apakah ini akan lama?” gumamnya. Ia mengambil ponselnya lagi. “lebih baik aku main game,” ujarnya sambil tersenyum riang.

Seorang pemuda berwajah baby-faced berlari sambil membawa sebuah koper besar ke arah gadis itu. Terlihat pakaiannya juga casual. Sepertinya mereka akan pergi berlibur. “hah… hah… gomenasai, Nona Inoue!!” pemuda itu berulang kali membungkuk pada seorang gadis bernama Orihime Inoue. Napasnya terengah-engah. Dengan tenang, Orihime menjawab, “tak apa. Kita belum terlambat, ayo berangkat” ia beranjak dari tempat duduknya. “baik, Nona.” Pemuda berwajah mungil itu berjalan mengikuti Orihime. “Nona yakin, mau pergi?” Tanya pemuda itu. “tentu saja, Chicko-kun. Musim panas di Tokyo sungguh mengerikan, aku bisa mati terpanggang. Hey, jangan telfon ayah tanpa seijinku.” Orihime menoleh ke arah Chicko. “ba, baik Nona.”
***
INCHEON INTERNATIONAL AIRPORT, KOREA
“hoaaaahhhm, kita sudah sampai Nona.” Chicko menguap. Mereka berdua mulai berjalan.
“aku sudah tak sabar ingin melihat festival di Korea.” Orihime tersenyum hingga matanya menyipit. “Chicko-kun, kau mau beli eskrim?” Tanya Orihime pada Chicko yang sedang mengutak-atik jadwal Orihime. “terserah nona saja,” Chicko tersenyum lalu kembali berkutat  pada buku jurnal yang berisi jadwal Orihime selama musim panas. Orihime menoleh pada Chicko lalu bertanya lagi, “kau mau rasa…” bruukkk!!! Belum selesai Orihime berbicara, ia menubruk seorang pemuda.
“joeseonghamnida, aku tidak sengaja.” Pemuda itu membungkukkan badannya pada Orihime. Pemuda itu berbicara dalam bahasa Korea. “I’m sorry, I don’t understand Korean Language.” Jawab Orihime dengan aksen Jepangnya. “kau orang Jepang?!??” Tanya pemuda itu dengan wajah berseri-seri.
“tentu saja..” jawab Orihime agak skeptis.
“apa dia adikmu?” pemuda itu menunjuk Chicko.
“ahhh.. dia.. sekretarisku.” Orihime terlihat agak kikuk.
“Izumi Sato desu..” chicko membungkukkan badannya.
“sekretaris? Hmm… sepertinya kau tidak asing bagiku.” Pemuda itu mengerutkan dahinya.
“kau tidak ingat wajahku? Kau tidak ingat siapa aku?” Orihime menunjuk-nunjuk wajahnya. Ia tersenyum lebar.
“tunggu, wajahmu seperti…” ia mengerutkan dahinya.
“astaga!!!! Nona Inoue!!! Keponakan Kaisar!!!!” pemuda itu terlihat sangat terkejut.
“jangan keras-keras.. kau akan membongkar penyamaranku!” Orihime terlihat kikuk dan menutupi wajahnya dengan brosur wisata. “maafkan aku, nona, maafkan kelancanganku karna tidak mengenalimu.” Pemuda itu membungkukkan badannya berkali-kali. “sudah-sudah, aku tidak ingin mereka mengenaliku.” Orihime menarik tangan pemuda itu. “tapi.. anda keponakan kaisar..” “tak apa.. aku orangnya santai. Bersikaplah seolah-olah aku temanmu.” Orihime dengan lembut tersenyum pada pemuda itu, membuatnya terpaku melihat senyum indah Orihime. “nona, tahukah anda?” pemuda itu bergumam tanpa berkedip. “apa?” “anda jauh lebih cantik dan anggun dari yang kubayangkan. Anda jauh lebih cantik dari yang kulihat di televisi..”
“benarkah?” wajah Orihime langsung memerah. “aku bersumpah..” pemuda itu tetap tak berkedip. Chicko yang sedari tadi di belakang Orihime hanya tersenyum geli. “siapa namamu?” Tanya Orihime. Pemuda itu langsung terkesiap. “Shiniichi kagurazaka desu.. suatu kehormatan bertemu dengan anda, nona..” Shin kembali membungkukkan badannya. “hmm.. kami akan membeli es krim, kau mau ikut kagurazaka-san?” “tentu saja nona, sebagai warga Negara yang baik, aku juga bertanggung jawab pada keselamatanmu. Ngomong-ngomong, mana body guard nona?” Shin mencari-cari di sekeliling Orihime. “oh.. itu.. aku.. memang sengaja tidak membawanya.. lagipula, chicko-kun pandai beladiri..” Orihime agak kikuk menjawab pertanyaan Shin. Namun Shin sepertinya percaya pada perkataan Orihime. “kenapa anda memanggil Sato-san dengan nama Chicko?” Shin terlihat penasaran. “itu karna tingkahnya seperti ayam, hahahaha” Chicko yang dibicarakan hanya bisa tersenyum kecut.. “ahh.. nona ini” keluhnya dalam hati. Mereka berjalan menuju toko penjual es krim di bandara. Namun, Orihime tidak memperhatikan jalannya. Tiba-tiba ia terpeleset manik-manik yang entah darimana berserakan di lantai. Dengan sigap Shin menangkap tubuh Orihime, begitu juga dengan Chicko. Yap, mirip adegan dalam drama. “anda tidak apa-apa nona?” Chicko membenahi pakaian dan rambut Orihime yang berantakan. “aku tak apa-apa, chicko-kun. Hmm.. terima kasih kagurazaka-san.” Orihime terlihat agak tersipu. “jangan sungkan, nona.. aku akan terus menemani nona, aku merasa bertanggung jawab atas keselamatan nona..”
“hmm.. baiklah, aku jadikan kau tour guide ku..”
“terima kasih nona..” Shin tersenyum bangga namun tersirat ekspresi malu-malu di wajahnya. “berikan nomor ponsel dan e-mail mu, kami akan ke hotel sekarang.”
“baik, nona. mau kupanggilkan taksi?”
“boleh, terima kasih kagurazaka-san” Orihime tersenyum manis. Mereka pun berpisah.
DI HOTEL
“besok pagi-pagi kau ke lobi hotel kami. Pandu kami berdua melihat festival di Pantai Haeundae. “dengan senang hati nona, festival itu cukup menarik. Aku sudah beberapa tahun disini, jadi aku tahu.”
“baguslah.. kalau begitu kututup teleponnya ya, setelah ini akan kukirimkan alamat hotelnya.”
“konbanwa, nona Inoue..” mereka memutus sambungan telepon. Setelah mengirimkan alamat hotel ke Shin, Orihime lalu menelepon kakaknya yang sedang kuliah lagi di Amerika. “kakak.. aku merindukanmu..” Ujar Orihime manja. “maaf kakak jarang menelepon ke rumah.. tugas kuliah kakak menumpuk.. belum lagi kakak harus melakukakn riset disana-sini. Tenang saja beberapa hari lagi kakak pulang ke Jepang!”
“benarkah???” ekspresi Orihime langsung berubah riang, namun seketika itu juga ia lesu kembali. “tapi aku sedang liburan di Korea dengan chicko-kun, dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya.”
“tak apa Oo-chan, aku agak lama di Jepang, kau pasti bertemu denganku.”
“kakak janji ya, sebelum bertemu denganku, kakak tidak boleh kembali ke Amerika..”
“iya, sayang.. kakak janji.. sudah dulu ya,temanku  memanggilku.” Kakaknya menutup telepon. Orihime terdiam sesaat. Matanya memandang langit-langit kamar. Terdengar bunyi peringatan ponselnya low-battery. Tangan kanannya menjuntai ke lantai. Tanpa sadar, ia menjatuhkan ponselnya. Ia tertidur pulas karna kelelahan.”
***
 “dia sudah datang?” Orihime mengamnil topi musim panasnya lalu turun ke lobi hotel. “anda sudah siap nona?” Tanya Shin pada Orihime. “aku siap!” jawab Orihime sambil tersenyum riang.
Begitulah, seharian mereka bersenang-senang di sepanjang pantai. Mereka melihat-lihat kompetisi membuat replika monument terkenal dunia dari pasir, mereka melihat-lihat sambil membawa kamera dan tentu saja minuman dingin ada di tangan. “ayo berfoto,” chicko berjalan menuju replika menara Pisa. “biar aku yang memotret kalian.” Shin menyiapkan kameranya. Orihime memeluk tubuh mungil chicko. Tangan Orihime dan chicko masing-masing membentuk hati. “senyum, satu, dua..” ckrek.  “fotonya bagus, ayo sekali lagi. Satu.. dua..” bruukk!! Tiba-tiba Shin ditabrak anak kecil yang berlarian kesana kemari. Kameranya terjatuh tepat di depan Orihime. Secepat kilat ia mengambil kameranya, begitupun dengan Orihime. Sehingga tangan mereka tak sengaja saling menyentuh dan membuat mereka berdua tersipu malu. “sekarang giliran kalian..” chicko mengambil kamera dari tangan Shin. “ayolah… lebih dekat lagi..” Chicko mengarahkan tangannya ke Shin. Ia lalu menghampiri Orihime dan menarik tangan Shin sehingga Shin merangkul Orihime. “nah, begini lebih bagus..” Orihime dan Shin tersenyum malu-malu kucing.
SEMENTARA ITU DI TOKYO
“Dimana Oo-chan? Dia meneleponmu?” Tuan Inoue menghubungi istrinya, ia terlihat panik. Namun ia tak ingin membuat istrinya mengkhawatirkan Orihime, takutnya istrinya shock lalu pingsan, ia mengendalikan suaranya agar tidak gemetar. Ia berkali-kali menelepon Orihime, namun hanya mailbox yang diterimanya. Ia makin panik, kemana anaknya pergi? Ia tak menghadiri acaranya. Tak ada yang tahu dimana keberadaan Orihime. Ia menelepon semua pengelola tempat yang biasa dikunjungi Orihime, namun mereka kompak menjawab tidak tahu. Ia kini mondar-mandir di ruangannya. Dalam kepanikannya, tiba-tiba seseorang masuk. “ayah.. aku pulang..” Tuan Inoue langsung menengok ke belakang. Ternyata Hayato Inoue, kakak Orihime. “kau…. pulang?” Tuan Inoue menghambur memeluk anak laki-laki satu-satunya. “adikmu menghilang.. aku meneleponnya berkali-kali namun ia tak menjawab telepon dari ayah.. ayah sudah menelepon kemana-mana, tapi…” mata Tuan Inoue berkaca-kaca. “tapi ayah.. tadi malam Oo-chan meneleponku…” sontak Tuan Inoue melepaskan dekapannya. “apa kau bilang?” Tuan Inoue tampak sangat terkejut.
“katanya ia ada di Korea..” Ujar Hayato. Tuan Inoue langsung jatuh terduduk di sofa kantornya. Air matanya mengalir. “anak itu.. tak tahukah ia betapa khawatirnya aku?” Tuan Inoue segera menghapus air matanya. Hayato menepuk-nepuk pundak ayahnya untuk menghiburnya. “tenang saja, ayah.. dia bersama izumi-kun..”
“aku mengandalkan bocah itu..” Tuan Inoue mengusap lagi air matanya lalu beranjak pergi. Hayato hanya terdiam melihat ayahnya melangkah keluar.

**************TO BE CONTINUED**************

0 komentar:

Poskan Komentar