Senin, 18 Juni 2012

************ NONA!! JADILAH MILIKKU!! part 2************

Title: NONA!! JADILAH MILIKKU!!
Author: Arlita
Genre: Drama
Length: part 2 of 3
Cast:
1. Shiniichi Kagurazaka
2. Orihime Inoue
3. Izumi Sato (Chicko)
3. Tuan Inoue (ayah Orihime)
4. Nyonya Inoue (Ibu Orihime)
5. Hayato Inoue (kakak laki-laki Orihime)

FLASHBACK
(“adikmu menghilang.. aku meneleponnya berkali-kali namun ia tak menjawab telepon dari ayah.. ayah sudah menelepon kemana-mana, tapi…” mata Tuan Inoue berkaca-kaca. “katanya ia ada di Korea..” Ujar Hayato. Tuan Inoue langsung jatuh terduduk di sofa kantornya. Air matanya mengalir. “anak itu.. tak tahukah ia betapa khawatirnya aku?” )

SEMINGGU KEMUDIAN
“terima kasih ya, kau sudah bersedia menjadi guide kami selama seminggu. Aku akan kembali ke Jepang.” Orihime membungkuk pada Shin. Shin agak kikuk melihat Orihime membungkuk padanya. “ahhh.. tidak perlu sungkan, nona..”
“aku akan pulang nanti sore. Aku tidak pernah bisa melewatkan hanabi (hanabi: pesta kembang api, biasanya di musim panas) seminggu lagi. Sepertinya aku harus menyamar lagi,” Shin dan Chicko tertawa karna Orihime yang tiba-tiba nyeplos. “kebetulan sekali aku juga akan melihat pesta kembang api. Aku berharap bertemu dengan nona lagi..” Shin tersipu sambil mengusap-usap tengkuknya. Kebiasaannya.
“tenang saja, aku sudah punya e-mailmu..” Orihime tersenyum manis.
“kalau begitu, aku pulang nona.. semoga selamat sampai tujuan!!!” Shin membungkuk lalu berbalik pulang.
***
“chicko-kun..” Orihime memanggil Chicko sambil bersandar pada jendela pesawat.
“ya?” Chicko yang sedari tadi membaca novel langsung menoleh.
“sepertinya aku menyukai Kagurazaka-san..” Orihime menutupi wajahnya karena malu.
“aku sudah merasakannya sejak awal.” Chicko nyengir nakal menggoda Orihime.
“aku mendukungmu, nona. dia orang yang baik.” Chicko mengepalkan tangannya ke atas.
“aahhh.. adikku sayang..” Orihime memeluk Chicko. Namun chicko menggeliat melepaskan pelukan Orihime. “aku bukan anak kecil lagi, nona..” Chicko mendengus.
“meskipun begitu kau tetap menggemaskan!!” Orihime mencubit pipi Chicko.
“pulang ke Jepang nanti aku akan punya pacar..” Chicko tersenyum lebar.
“aku juga tak mau kalah darimu. Aku juga akan menjadikannya pacarku.” Orihime tersenyum penuh ambisi.
***
“nonaa!!!” Shin berlari kencang dan menembus kerumunan orang-orang.
“hah.. hah.. hah.. aku beruntung bisa bertemu nona lagi..” Shin mengatur nafasnya. “sudah kubilang kau akan bertemu lagi denganku.” Orihime tersenyum hingga matanya menyipit. “nona.. cantik sekali memakai yukata.. (yukata: kimono berbahan katun yang nyaman dan sejuk untuk musim panas)” Shin kembali mengusap-usap tengkuknya. Kebiasaannya saat ia tersipu malu.
“kau merindukanku?” Tanya Orihime penuh selidik.
“ahh.. tidak nona, mana boleh aku…..”
“kau merindukanku?” Orihime tersenyum lebar.
“i-iya, nona.. aku sangat merindukanmu.” Shin tersenyum kikuk. “ayo jalan-jalan.” Orihime menarik tangan Shin. Chicko mengikuti di belakang mereka berdua.
Mereka berjalan berkeliling, mencoba berbagai permainan. Mulai dari menembak bebek karton, melempar gelang, sampai memancing ikan dengan kail bermagnet. Mereka tampak begitu riang, tak terlintas sedikitpun kesedihan di raut wajah mereka. “nona, aku akan membeli es serut, kalian jangan kemana-mana ya!” Chicko berlari kecil meninggalkan mereka berdua. Beberapa menit mereka menunggu, jalanan mulai ramai. Orang-orang mulai berdesakan. Tanpa sengaja Orihime dan Shin terdorong ke tepi. Wajah mereka sangat dekat. Mata mereka menatap tajam satu sama lain. Perlahan Shin mendekatkan wajahnya. Orihime pun perlahan menutup mata lentiknya. Shin mengecup lembut bibir Orihime. Orihime bagaikan terhipnotis, badannya seakan lumpuh, tak mampu melawan. Jujur, ia juga menginginkan ciuman itu. Mereka beranjak dari tempat masing-masing. Yang ditunggu akhirnya datang juga. Chicko membawa 3 gelas es serut rasa melon. Segar sekali.
“hey! Pesta kembang apinya sudah dimulai!” Chicko menunjuk ke langit. Kembang api cantik mewarnai langit yang hitam kelam. Diam-diam, Orihime menggenggam tangan Shin erat-erat. Jantungnya serasa akan meledak saking senangnya.
Mereka terpana pada keindahan gebyar kembang api di langit Tokyo, hingga tak menyadari kalau Chicko telah meninggalkan mereka berdua.
Ponsel Orihime bordering. “dari Chicko-kun.” Orihime bergumam. Mereka sontak melihat sekeliling.
“dimana Chicko-kun?!?”
“dimana Sato-san?!?” mereka berteriak bersamaan. Mereka tertawa lepas. Orihime mengangkat teleponnya.  “moshi-moshi, kau dimana?” ia men-loudspeaker panggilannya.
“aku ada urusan mendesak, nona. gomennasai! Nona bisa naik kereta bawah tanah lalu naik bis. Aku akan menunggu nona di halte pusat kota. Kagurazaka-san, aku bisa mempercayaimu kan?” “ya, tentu saja, Sato-san!” Chicko tertawa kecil, “panggil aku chicko-kun saja..”
“baiklah..” jawab Shin singkat.
“kalau begitu kututup dulu, nona. arigatou!” Chicko menutup teleponnya.
“sebaiknya nona pulang sekarang, aku khawatir pada nona. mari kuantar,”
“baiklah.. aku juga sudah lelah.” Orihime menggandeng tangan Shiniichi. Shin jadi agak kikuk.
***
“Sepertinya nona sudah biasa naik kereta bawah tanah.” Shin tersenyum pada Orihime.
“begitulah.. aku tidak selalu naik mobil. Terkadang aku naik bis.” Orihime memberikan tiket. “kita beruntung, kereta akan segera datang.” Sambungnya. Beberapa menit kemudian, kereta datang. Mereka masuk ke dalam kereta. Di perjalanan, Orihime ketiduran. Tangannya menggenggam erat tangan Shin. Kepalanya jatuh di bahu Shin. Pemuda itu bisa melihat kecantikan dan keanggunan Orihime dari dekat. Ia tersenyum. “kau benar-benar wanita cantik, nona..” gumamnya.
***
“nona.. bangunlah. Kita sampai di stasiun.” Shin menepuk-nepuk pundak Orihime. Dengan langkah juntai dan mata setengah terbuka ia berjalan menuju halte bus seraya memegangi baju Shin dari belakang. Mereka duduk berdua di halte. Orihime kembali menyandarkan kepalanya. “sepertinya nona kelelahan.” Gumamnya. Setengah jam menunggu, sampai Shin mengantuk dan tak sanggup membuka matanya. Tiba-tiba bus terakhir datang. Shin langsung bangun. Ia segera membangunkan orihime namun tak ada respon. Akhirnya ia memapah Orihime masuk ke bis. Selama perjalanan ia tak henti-hentinya menatap wajah cantik nan lembut Orihime. Sesekali ia membelai rambut Orihime yang hitam legam.
Chicko sudah terlihat di halte bus dengan mobil terparkir di sampingnya. “nona.. kita sudah sampai.. ayo bangun, nona..” Shin menepuk-nepuk pipi Orihime. Orihime bangkit namun dengan mata tertutup. Shin memapahnya keluar dari bis. Angin malam yang dingin bertiup di sekitar tengkuk Orihime dan membuatnya membuka mata. Di depannya sudah ada Chicko. “ahh.. adikku sayang.. kau sudah menungguku lama ya?” Orihime menghambur ke arah Chicko. Chicko menangkapnya dengan sigap. “terima kasih, Shiniichi-san, kau sudah mengantarku.” Orihime limbung saat membungkukkan badannya, namun segera ditegakkan oleh Chicko. “tidak perlu sungkan, nona..” jawab shin.
“maaf ya kagurazaka-san, aku sudah merepotkanmu.” Ujar Chicko.
“ah, jangan bilang begitu.. aku tidak repot sama sekali..” (ya iyalah diye untung bisa ngelus elus rambut cewe cakep -_-” )
“bagus kalau begitu.. terima kasih, kami pergi dulu.. konbanwa..” Chicko memapah Orihime yang matanya hanya 5 watt ke dalam mobil. Shin lalu berbalik, ia teringat sesuatu. “nona Inoue memanggil nama depanku? Shiniichi? Bukan Kagurazaka?” gumamnya. Ia berhenti sejenak. Ia lalu tersenyum.
PAGI HARI
“Nona, pakai plester demamnya.” Chicko memberikan plester demam yang telah dibuka.
“tolong buatkan teh panas.” Chicko menyuruh pelayan di belakangnya. Pelayan itu segera meninggalkan kamar Orihime. “aku keluar sebentar..” Chicko melangkah keluar dari kamar Orihime untuk menelepon -Shin. “moshi-moshi, nona sakit.. kurasa ia kelelahan. Kau harus menjenguknya.”
“nona Inoue sakit?” ia terdengar agak terkejut. “aku akan kesana.” Sambungnya.
***
Ting Tong!
“aku Shiniichi Kagurazaka. Aku ingin menjenguk nona Inoue.” Shin berbicara lewat interkom yang terpasang di pintu gerbang. “anda sudah buat janji?” seorang pria menjawab.
“sudah..” ia menjawab dengan penuh keyakinan. Lalu pintu gerbang dibuka. “wooww.. rumah ini sangat besar untuk ukuran Tokyo.” Shin lalu diantar ke kamar Orihime.
“kau.. kesini?!?!?” Orihime tersenyum riang melihat Shin.
“aku khawatir pada nona. ini aku bawakan bubur, masih panas..” Shin meletakkan bungkusan di meja samping tempat tidur Orihime. Seorang pelayan masuk membawa teh panas. Orihime yang masih shock namun senang, tiba-tiba menoleh ke arah Chicko. “Chicko-kun..”
Chicko yang senyam senyum langsung terkejut dan pura-pura mengangkat telepon penting. “maaf nona, ada telepon penting, aku keluar sebentar. Bibi, tolong bawakan mangkuk bubur.”
“makanlah buburnya nona,” Shin menyodorkan mangkuk bubur. (asal jangan “MANGKOK BUBU” yah.. ntar syahrini ngamuk. Iihh, sesuatu banget deh) “hmm… suapi aku..” Orihime cengar cengir.
“baik, kalau itu yang nona mau..” Shin lalu menyuapi Orihime.. sesuap demi sesuap bubur. Sebenarnya ia juga senang sekali, bisa menyuapi gadis cantik, bangsawan pula. (cieeee.. suap suapan.. ehemm!! Ada yang mau aku suapin? #plaakkk!!# abaikan)
“nona.. boleh aku tanya sesuatu?”
“boleh.. tanyakan saja.” Orihime memakan sesendok bubur yang disodorkan Shin.
“apa.. nona menyukaiku?”
“uhuukkk!!” seketika itu juga Orihime tersedak. “minumlah, nona..” Orihime lalu meminum air yang disodorkan Shin. “hmm.. bagaimana aku menjawabnya ya?” Shin yang melihat tingkah Orihime tersenyum nakal.
“nona menyukaiku ya?” senyumnya makin lebar.
“ah.. tidak kok..” wajah Orihime memerah.
“tapi wajah nona merah.. apa nona sebegitu menyukaiku?” Shin mendekatkan wajahnya.
“benarkah pipiku merah???” Orihime memegangi pipinya.
“tak apa kalau nona menyukaiku. Aku justru senang.” Wajah Shin makin mendekat. Orihime langsung menutupi wajahnya lalu mengangguk. Shin berhenti. Ia tercengang. “benar.. aku menyukaimu..” perlahan, Orihime membuka wajahnya. Shin yang duduk di samping Orihime yang terbaring di tempat tidur, tak berkedip dibuatnya. “jadilah pacarku..” Orihime membuat Shin tambah terkejut namun setelah itu wajah Shin juga memerah. “aku tidak mungkin bisa menolakmu, nona..” (cieeee!!!! Jadiaaaannn!!! Xixixixixixi #tebar melati (?)# ) Shin tersenyum manis. Betapa bahagianya ia hari ini.
1 TAHUN KEMUDIAN
“kenapa?!?! Aku hanya tidak ingin kita berpisah sia-sia!!”
“ini juga tak mudah bagiku!! Aku juga harus jadi pria yang layak di mata orang tuamu!!”
“ini tidak akan merusak hubunganku dengan ayah!! Cobalah dulu temui mereka!! Aku ingin hubungan kita berkembang!!” Shin dan Orihime bertengkar di sebuah lorong hotel.
“pulanglah!! Aku disini juga bekerja!! Shin membentak lalu masuk ke ruangannya. Saat hendak menutup pintu, ia melihat kekasih yang sangat dicintainya itu berdiri terpaku dengan air mata bercucuran. Shin merasa sangat bersalah. Dengan lembut ia menarik tangan Orihime lalu memeluknya.
“gomen, ne..” Shin membelai lembut rambut hitam Orihime. “kita temui orang tuamu besok. Apapun yang terjadi, kita tidak boleh berpisah.” Shin membelai pipi Orihime yang berurai air mata lalu mencium pipinya. “jangan menangis lagi ya?” Shin tersenyum. Orihime merasakan ketulusan dari senyum Shin. Ia kini merasa baik-baik saja.
 *************TO BE CONTINUED***************

0 komentar:

Poskan Komentar