Senin, 18 Juni 2012

RB ANEH cerbung chapter 3

FLASHBACK: SELESAI, KINI TINGGAL MENUNGGU KABAR DARI PIHAK RB




Aku dapat panggilan interview dari RB ANANDA KASIH BUNDA. Aku senang sekali.

Malam-malam ada yang menelponku.


Aku terbangun mendengar handphone ku berbunyi. Biasanya aku me-reject telepon yang masuk jam-jam seperti ini. Mereka mengganggu saja. Mereka tidak mengerti kalau aku kurang tidur. Aku kini tidur kapan saja. Jam tidurku sangat berubah. Jam 12 malam aku melek, sedangkan pagi hari aku tidur. Benar-benar seperti kelelawar. Pola hidup yang tidak sehat. Tapi begitu aku tahu itu telepon dari RB, secara spontan aku mengatur suaraku agar tidak serak dan langsung mengangkat telepon. Sebenarnya ake mengangkat telepon itu dengan mata tertutup. Kalian tahu sendiri lah, bagaimana bidan menunggu pasien melahirkan. Semalaman bidan menunggui si pasien. Pasien mengeluh sakit, mengeluh ini, mengeluh itu,  kami juga menuruti keinginan pasien, walaupun kadang dijalani dengan mata setengah terbuka karna kami diserang rasa kantuk yang luar biasa. Kadang kami setengah sadar. Aku ingin tertawa kalau mengingat kejadian itu.

 Kalau dirasa pasien tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan pembukaan, kami dapat sejenak tidur, melepaskan lelah kami yang lama tertumpuk. Yang membuatku kesal adalah ketika ada pasien melahirkan, dan biasanya anak pertama, yang terus-menerus mengeluh sakit. Melahirkan itu memang sakit, huh, mereka manja sekali. Yang lebih membuatku kesal, saat aku masih jadi praktikan di desa di Demak. Seorang wanita muda terus saja mengeluh sakit sekali, aku bilang “nggak papa mbak, melahirkan memang sakit. Kalau mbak belum ngerasa mau keluar, jangan ngejan dulu ya mbak. Takutnya nanti sobeknya lebar.”
Namun dia malah menjawab “emangnya mbak pernah nglahirin? Belum kan? Gak usah nasihatin saya, mbaknya aja belum pengalaman nglahirin kok.”
Aku benar-benar kesal mendengar jawaban wanita itu. Tapi aku tidak boleh meluapkan emosiku. Aku mengepalkan tanganku keras-keras, aku tidak boleh marah. Tidak boleh marah.
Inilah dedikasi kami untuk para ibu.
**


Matahari bersinar dengan cerah. Makin lama makin terik. Semoga hari ini tidak hujan. Akan sangat merepotkan kalau hujan.
Cuaca memang sukar diprediksi. Terlebih lagi cuaca dan iklim sekarang berubah-ubah. Anehnya, aku pernah membaca sebuah artikel yang isinya ada hujan es di gurun!!! Huhuh, menggelikan sekali.
Ada manusia yang bisa mengendalikannya. Mereka merekayasa cuaca dan iklim dengan teknologi mereka. Mereka mengendalikan muatan-muatan ion di atmosfer dengan menembakkan sesuatu ke langit. Dan itu mengubah muatan di atmosfer. Seketika mereka bisa membuat hujan badai di tempat yang mereka inginkan.
Bahkan mereka mampu menciptakan bencana alam mereka sendiri.

Hanya segelintir orang di dunia yang tahu persis akan hal ini.
Tapi, biarpun begitu, mereka belum sepenuhnya sempurna karna kesempurnaan hanya milik Tuhan.
Mereka menembakkan senjata pemusnah massalnya ke Irak untuk menciptakan gempa. Jadi, yang punya senjata pemusnah massal adalah mereka (A******) bukan Saddam Husein. Namun apa yang terjadi? Bukannya di Irak, tapi malah gempa dahsyat di China yang memporakporandakan bangunan dan menimbulkan banyak korban. Tsunami yang melanda negara-negara Asia dan sebagian kecil Afrika 26 Desember 2004 juga menyimpan banyak kejanggalan. Jumlah korbannya? Fantastis. Namun sekali lagi, hanya segelintir orang yang tahu.
**
Sesampainya disana aku segera memarkirkan motorku di bawah pohon yang teduh. Lalu aku berjalan kea rah pintu. Kulihat kenop pintunya lalu mengarahkan mataku ke kaca pintu. Penuh debu. Berapa lama tempat ini tidak dibersihkan? Gumamku dalam hati. Aku melangkah masuk. Hawa dingin menyambutku. Membuatku merinding. Padahal hawa di luar panas sekali.
Aneh.
Ruangan begitu lembab, agak gelap, dan pengap. Aku tidak suka.

Tempat seperti ini sangat cocok dijadikan tempat tinggal para jin, demit, dan makhluk astral lainnya. Tapi aku tidak begitu memperhatikan hal-hal seperti itu. Karena aku belum pernah punya pengalaman diganggu makhluk astral. Aku belum pernah melihat, bahkan merasakan sekalipun kehadiran mereka.
Biarlah..
Seseorang mengagetkanku. Ternyata dr. Andreas. “silahkan masuk mbak,” sapanya.
“oh... iya pak,” jawabku sambil mengikuti seorang pria dengan tinggi rata-rata  ke ruangannya. Tidak tinggi, tidak pula pendek. Wajahnya menyiratkan bagaimana kehidupannya. Agak keriput, sepertinya pria itu sudah agak berumur. Yah, hamper sepantaran ayahku. Agak lebih muda.
Akupun menjalani interview. Syukurlah lancar, walaupun ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa kujawab dengan baik. Setelah ini aku akan pulang. Aku lelah sekali. Kurasakan punggungku pegal karna naik motor bolak-balik sukorejo-weleri, weleri-sukorejo. Tak apa lah, semua ini kulakukan demi mendapatkan pekerjaan.
**
Aku senang sekali.^^
Aku diterima di RB itu.dan aku akan bekerja disana mulai besok. Aku mulai mengepak barang-barang yang perlu aku bawa. Karna aku akan menginap disana, mungkin aku bisa pulang ke rumah hari sabtu atau minggu, seperti saat kuliah dulu. Baju, alat mandi, alat sholat, seragam kebidanan, charger dan lain-lain sudah masuk ke dalam tas. Wow, aku harus membawa dua tas. Satu tas akan aku pakai di punggung, satunya lagi akan kuletakkan di sela antara jok dan kemudi. Cukup luas, motorku matic. Aku sudah tidak sabar mulai bekerja.
***
Aku disambut hawa dingin lagi. Tempat ini benar-benar…
Biarkanlah..
Aku disambut hangat oleh kedua orang itu. Dr. Andreas dan istrinya, Ny. Andreas. Wanita itu terlihat penyayang. Ia beprofesi sebagai bidan. Mereka membangun RB ini berdua. Pasti dulu mereka sangat Berjaya. Bisa membangun sebuah RB dengan penghasilan mereka berdua. Tapi aku tidak tahu mengapa RB ini sekarang jadi sepi.
Aku mulai diajak Ny. Andreas berkeliling sambil bercerita. Dia menunjukkan letak kamar mandi, letak dapur, dan lain-lain. Katanya RB ini sempat ditutup dan baru dibuka lagi 3 bulan yang lalu. Pantas saja, tempat ini kotor sekali. Masih kutemukan sarang laba-laba di beberapa tempat. “mbak maaf, habis ini saya mau ke Jogja, tolong bapak dibantuin ya. Kalau mau minta apa-apa bisa minta sama pak OB. Paaaaaakkk, kesini sebentar pak.” teriak Ny. Andreas memanggil pak OB. Seorang pria berumur 35an muncul dari dapur. “njeh buk, pripun?”OB itu menjawab dengan bahasa krama inggil yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “ya buk, ada apa?”
“ini ada bidan anyar, nanti bantuin jaga disini. Saya kan bolak-balik ke Jogja trus kesini lagi. Yang bantuin bapak (dr. Andreas) di sini kan cuma praktikan. ”  Jawabnya.
“Saya tinggal dulu ya mbak, anggep aja rumah sendiri.” Tambahnya. Ny. Andreas meninggalkanku. Suasana jadi hening.
Tak tahu mengapa aku merasakan hawa panas di tengkuk ku. Ah, aku ke kamar saja.
“pak, saya ke kamar dulu ya.” Sapaku memecah keheningan. “oh, iya monggo mbak.” Jawab pak OB. Aku melangkahkan kakiku ke kamarku.
Huh, benar-benar kotor. Aku pun mulai membenahi kamar yang akan kutempati. Selain itu, aku juga membersihkan ruang depan RB, pak OB yang melihatku langsung turun tangan membantuku.
Akhirnya selesai juga. Ruangan tampak jadi lebih terang. Aku ingin istirahat sejenak di kamarku. Aku cukup menyukainya, ada kamar mandi dalam dan juga televisi.
***

Pagi ini cerah, aku ingin jalan-jalan sebentar di sekitar sini, aku juga ingin melihat situasi di sekitar RB.
Lalu aku bertemu seorang wanita paruh baya, aku menyapanya dengan sopan. “monggo bu.” Ibu itu menjawab “oh nggih, monggo mbak.” Namun tiba-tiba wanita itu jatuh terpeleset, aku spontan memegangi tangannya. Aku memapahnya ke teras rumah seorang warga. Kurasa ia tidak apa-apa. Namun langkahnya agak pincang. Kami lalu bercerita. “mbak bukan orang sini ya? Saya kok nggak pernah liat mbak disini.” Wanita itu memulai percakapan.
“iya buk, saya kerja di RB sini, saya baru kesini kemaren.”
“ohhh, mbak kerja di RB ya. Mbak asalnya darimana?”
“dari sukorejo buk,” jawabku singkat.
“oohhhh, orang sukorejo to. Mbak apa nggak capek tiap hari lajo sukorejo-sini?” Tanya wanita itu ramah.
“saya nginep kok buk, kan boros juga kalo tiap hari bolak-balik.”
“mbak nginep disitu? Wani men koe mbak.” (berani amat kamu mbak?)
Aku terkejut mendengar perkataannya. “emang kenapa buk?”
“dulu ada nempatin itu, nggak tahu udah pergi apa belum.” Jawab wanita itu dengan ekspresi serius.
Aku agak merinding. Tapi waktu menunjukkan pukul 09.00
Aku akan kembali ke RB sekarang.
“buk, sampun jam songo niki buk. Kulo tak wangsul rumiyin. Kulo nggih dereng adus niki, kecut. Ibuk’e mboten nopo-nopo to?” aku menjawabnya dengan bahasa karma.
(bu, sudah jam Sembilan ini buk, saya mau pulang dulu. Saya juga belum mandi ini bu, baunya asem. Ibu tidak apa-apa kan?)
“ya, monggo mbak, saya nggak papa, cuma lecet.” Jawab wanita tua itu.
***

Matahari  mulai condong ke barat. Langit menjadi kemerah-merahan, remang-remang. Aku masih terngiang kata-kata wanita tua tadi. Aku jadi sedikit takut.
Aku berjalan ke dapur, membuat kopi. Aku penasaran apa yang ada dibelakang gedung ini. Kuintip jendela dapur yang ditutupi oleh gorden. Kelihatannya rawa-rawa. Kurasa ini bekas sawah yang tenggelam terendam banjir. Huhuhuh, kurasa orang itu benar,  settingnya pas sekali untuk tempat tinggal makhluk gaib.

Hari ini tidak ada pasien satu pun. Aku hanya di kamar menonton TV.
Membosankan sekali.
***to be continued***



Minta tanggapannya lagi yah., sebenernya aku lagi banyak tugas, ni udah mulai nyicil ujian praktek. Tapi demi eonni eonni and saeng q yang penasaran ma cerita ini, aku langsung bikin.
Jangan lupa like n comment yah.,
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.,, ^^

0 komentar:

Poskan Komentar