Senin, 18 Juni 2012

RB ANEH chapter 2

FLASHBACK: AKU HARUS MENDAPATKAN PEKERJAAN, AKU TIDAK BISA HANYA BERDIAM DIRI




Aku mencari-cari lowongan di mana saja. Di Koran, di internet, aku juga pernah ikut di bursa kerja di Semarang. Aku ingin menceritakannya pada kalian.
Aku melihat sekelilingku, mereka orang-orang yang masuk golongan high-class. Pakaian bermerek, sepatu bermerek, kosmetik bermerek, Aku jadi merasa minder pada mereka. Diam-diam kulirik ijazah pria di sampingku. Dia kuliah jurusan arsitek. Dia kuliah di kampus terkenal!! Aku semakin minder melihat ijazah pria itu.

Setelah kuamati, orang-orang disini kebanyakan kuliah jurusan ilmu-ilmu teknik. Penampilan mereka juga menarik. Aduh, bagaimana ini? Aku harus bersaing dengan mereka semua. Apa aku akan dapat pekerjaan?? Pikirku dalam hati. Lama kami menunggu giliran.

Giliranku. Beberapa orang masuk sekaligus. Aku hitung ada 5 orang masuk ke ruangan. Di dalam ada lima meja yang cukup lebar, dengan lima penyeleksi pula. Kurasa nama eksekutor cocok untuk mereka. Satu persatu kami memperkenalkan diri. Lalu kami mulai dicecar pertanyaan.
“mbak, sudah pernah mendapatkan sekolah sekretaris?” Tanya penyeleksi di hadapanku. “sekretaris? Kan saya nyari untuk bidan.” Jawabku. “sebelumnya kami mohon maaf mbak, karna tidak ada lowongan untuk bidan disini. Lowongan bidan kosong, baru kemarin ada yang mengambil. Adanya lowongan sekretaris.” Jawab si penyeleksi dengan wajah seperti tak punya dosa. “kan nggak papa, mbak bisa jadi sekretaris. Jadi sekretaris itu mudah mbak, Cuma ngatur jadwal dan menghandle keluar masuknya surat. Apalagi mbak ini appearance nya mendukung” “gimana ya pak?? saya juga pengen. Tapi masalahnya saya bidan, jadi nggak tau apa-apa tentang sekretaris.” Jawabku bimbang. Agak mencurigakan. Memangnya tidak ada pelamar lain? Aku patut curiga pada orang yang satu ini. “kalau nggak mau juga nggak papa kok mbak.” Kata penyeleksi itu.
  Aku tidak mau, aku bidan, bukan sekretaris. Aku juga tidak pernah mendapatkan ilmu sekretaris. Nantinya akan membawa masalah bagiku. Maka aku keluar dari ruangan dan segera pulang ke rumah. Tapi sudah sore. Hujan deras sekali. Aku harus menunggu lama sampaihujannya agak reda. Kalau aku terjang, berkas-berkasku akan basah dan aku bisa sakit. Bahkan meski aku memakai jas hujan, badanku akan tetap basah kuyup. Akhirnya hujan mulai reda. Waktu menunjukkan pukul setengah enam. Hari sudah mulai gelap.  Lalu aku ke rumah temanku. Aku sudah berjanji akan mampir ke rumahnya.
Waktu menunjukkan pukul tujuh. Hujan gerimis masih membasahi kota Semarang. Aku akan pulang sekarang, biarpun sedikit hujan dan langit gelap. Tak apa lah, sampai di rumah nanti sekitar jam 8 malam. Aku mengirimkan sms ke ibuku. “buk, nanti aku pulang. Sekitar jam 8. Dari tadi ujan terus ga berhenti berhenti.” Lalu aku menghidupkan motorku dan melaju.

Ketika aku berjalan baru beberapa belas kilometer, hujan deras kembali turun. Aku segera mengarahkan motorku ke tempat untuk aku berteduh. Aku segera mengirimkan sms ke adikku. “dek, kasih tau ibuk mbak Rini nggak jadi pulang. Aku nginep di rumah temenku Dhyas, soalnya ujannya deres banget.”

 Ada beberapa lowongan yang aku temukan, maka aku mencoba melamar di sebuah rumah sakit di Kabupaten Temanggung. Aku sangat mengharapkan pekerjaan ini. Karena rumah sakit ini cukup besar dan terkenal.

Tapi setelah aku pikir-pikir, sebuah rumah sakit hanya membutuhkan sedikit bidan. Pasti mereka mencari bidan yang punya kriteria sangat bagus dan punya pengalaman kerja.
Aku? Aku belum punya pengalaman sama sekali. Dan lagi, SIB ku belum keluar, kemungkinanku diterima di sana sangat kecil.

Jadi aku iseng-iseng mengirimkan Curriculum vitae ku atau sering disingkat CV ke sebuah bank syariah di Cepu, jawa tengah. Memang terdengar lucu, seorang bidan bekerja di bank. Tapi aku tidak akan mengambil pekerjaan tetap. Aku hanya sementara disini. Itupun kalau aku diterima. Aku sadar siapa diriku. Panggilan hidupku adalah menolong seorang ibu melahirkan anaknya ke dunia. membantu persalinan. Entahlah, aku lelah. Hari sudah malam. Aku akan tidur sekarang.



Waktu pun berlalu, hari berganti hari. Aku masih menganggur disini. Dan tentu saja, aku alih profesi menjadi pembantu rumah tangga di rumahku sendiri. Adik-adikku sekolah, ibu dan ayah mengajar. Mereka berdua mengajar di SMA Negeri yang sama. Pagi hari mereka berangkat berdua berboncengan dengan motor. Saat membonceng, ibuku selalu berpegangan di pinggang ayahku. Saat kebetulan bertemu murid, ayah dan ibu pasti digoda oleh murid-murid mereka. Bu, jangan mesra-mesra, muridnya pengen bu!!! Kira-kira begitulah. Mereka memang pasangan romantis, 26 tahun mereka menikah, tapi mereka terlihat adem-ayem saja. Aku pun senang, keluarga kami bahagia. Biarpun kami tidak kaya, tapi kami berkecukupan. Begitulah kehidupan.


Tak ada panggilan dari Rumah Sakit Temanggung. Aku sudah bisa menebaknya. Tapi tetap saja, aku merasa kecewa. Kemana lagi aku akan mengirim CV ku.


Ada panggilan dari bank. Aku dipanggil untuk menjalani wawancara. Setelah itu, aku menjalani psikotes. Aku juga mendapat beberapa teman disana. Kami menceritakan pengalaman masing-masing. Ada satu temanku. Seorang laki-laki yang nampaknya sosok yang taat beribadah. Dia pernah sekali membelikanku es buah di dekat venue psikotes diadakan. Dia mengharapkan pekerjaan di bank itu, aku pun mendukungnya.


Beberapa minggu aku menunggu. Ada kabar baik. Aku diterima di bank itu. Tapi kabar buruknya, temanku itu tidak diterima. Aku agak merasa bersalah padanya. Padahal dia masih sering mengirim sms padaku.
Dia yang mengharapkan pekerjaan itu, tidak diterima. Sedangkan aku yang hanya iseng-iseng mengirimkan CV malah diterima. Dunia sungguh aneh. Aku jadi kasihan pada lelaki itu. Tapi itu kronologi yang sudah disusun rapi oleh-Nya. Kita tidak bisa mengelak.


Aku ceritakan pada ayahku. Tapi beliau tidak setuju aku bekerja di bank. “kamu kan bidan, mbok ya cari kerja yang laen, kamu kan bisa ikut Bu Yayuk buat cari pengalaman dulu. Kamu kan orang kesehatan, akan lebih bagus kalau kamu cari pengalaman di kesehatan juga. Apalagi kerja di bank itu uangnya gak berkah kalau dibandingkan guru.” Begitu kata ayahku.
Ibuku, selalu mendukungku. Saat aku berencana melamar kerja di bank, ibu setuju. “ibu setuju-setuju saja nduk, sementara kamu menunggu SIB mu keluar, kamu boleh kerja di bank. Sambil cari-cari pengalaman lah. Tapi memang lebih bagus kalau kamu ikut Bu Yayuk saja. Atau kalau kamu mau, kamu bisa wiyata mandala di Puskesmas Patean. Bu Yayuk kan ada disana juga.”

Bu yayuk. Bu yayuk dulunya Bidan Desa Mlatiharjo. Dulunya. Kini Bu Yayuk jadi Bidan Desa di seberang. Keluarga Bu Yayuk sangat dekat dengan keluarga kami. Terutama padaku. Aku juga sering tidur di rumahnya ketika ada Partus (pasien mau melahirkan). Bu yayuk dan Pak Sigit, mereka memperlakukanku seperti anak mereka. Itu wajar, karna mereka hanya mempunyai satu orang anak, bernama Yessi. Mereka kadang mengajakku jalan-jalan dengan mobil, entah itu makan di luar, atau kemana saja. Dan tentu saja bersama Yessi.
Aku sering pulang malam saat ada partus.kalau sudah lebih dari jam 12, Pak Sigit akan mengantarkanku pulang dengan sukarela. Bahkan, sering Bu Yayuk yang menyuruhnya.



Aku hanya terdiam mendengarkan nasihat ayah. Ayah benar. Bank bukan bidangku.
Aku tidak akan mengambil pekerjaan itu. Aku akan mencari yang sesuai dengan bidangku, Kesehatan.




Semua berkas sudah aku kumpulkan jadi satu dalam sebuah stofmap. Ada lowongan si Rumah Sakit Muhamadiyah di Kecamatan Weleri. Huh, aku harus ke daerah bawah lagi, gumamku dalam hati. Siang ini aku akan kesana.

Aku siap. Aku akan berangkat sekarang. Berkas, dompet, mukena, air minum, snack, lengkap sudah. Kuhidupkan mesin motorku. Kupanasi sebentar, lalu aku meluncur ke Kecamatan Weleri yang bila ditempuh dengan motorku memakan waktu sekitar setengah jam dari rumah. Agak jauh memang, terlebih jalannya berkelok-kelok.
Sepanjang jalan aku hanya terfokus pada jalanan. Aku tidak mau kehilangan konsentrasiku, takutnya nanti terjadi sesuatu.
Meter demi meter kulewati, belokan demi belokan ku taklukan, setengah jam berlalu. Aku sudah sampai. Sebelum aku memarkirkan motorku, di kiri jalan kulihat ada sebuah RB (Rumah Sakit Bersalin). “ANANDA KASIH BUNDA” aku membacanya dalam hati.
Aku tidak jadi melamar di RS Muhammadiyah, aku ke sini saja. Lagipula, aku tidak mungkin diterima di rumah sakit itu tanpa melampirkan SIB. Ini hanya RB, aku akan cari pengalaman disini.
Kuganti alamat surat lamaran, menjadi Ananda Kasih Bunda.
Selesai, kini tinggal menunggu kabar dari pihak RB.


minta tanggapan lagi yah., jangan lupa di like n di komen., biar ke sananya jadi lebih baik^^
mian kalo ntar chapter 3 agak lama bikinnya. soalnya otak tabbi lagi buntu nih, hahaha
susah banget nyari ilham., (padahal punya sodara namanya ilham)
oke deh, met ketemu di chapter selanjutnya!!!!^^

0 komentar:

Poskan Komentar