Senin, 18 Juni 2012

RB ANEH chapter 4

CHAPTER 4



FLASHBACK: (dulu ada yang nempatin itu, nggak tau udah pergi apa belum. Aku terkejut mendengar perkataanya)




RB ini sepi sekali. Jarang ada partus yang datang ke sini. Mungkin mereka memang tidak mau, dan mungkin juga tidak direkomendasikan oleh keluarga si partus.
Paling-paling hanya korban kecelakaan di sekitar sini.
Salah satu hal yang membuat RB ini wagu (tidak lazim), Pak Dokter sering mengajak teman-temannya ke RB malam-malam. Mereka mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Dan pagi hari ruang tamu RB pasti akan penuh dengan sampah bekas makanan seperti kacang, kopi, dan lain-lain. Aku heran sekali, seorang dokter perilakunya seperti itu, kelakuannya seperti anak muda. Pola hidupnya berantakan sekali. Dokter macam apa dia? Pikirku dalam hati.


“mbak tolong ambilin alat-alat di gudang.” Pak Dokter menyuruhku. Ada pasien kecelakaan yang datang. dia digotong oleh beberapa orang. Kecelakaan tunggal. Kulihat darah mengucur dari tangannya. Kakinya lecet dan mengeluarkan darah. Wajahnya meringis kesakitan, aku tak tega melihatnya. Aku berjalan cepat menuju gudang. Sampai di pintu gudang aku mencium sesuatu. Seperti… bau kemenyan. Aku mencari-cari sumber baunya. Aku menelusuri sudut-sudut gudang. Nah, ternyata benar, ada kemenyan di pojokan gudang. Untuk apa kemenyan ini? Apa jangan-jangan memang benar disini ada yang menunggui? Melihat dan mencium bau kemenyan, aku merasa agak merinding. Aku segera mengambil alat-alat yang dibutuhkan, dan segera keluar dari gudang itu.
Di lorong, aku bertemu Pak OB, lalu aku langsung berbicara.
“pak, di gudang kok ada menyan ya?”
“beneran dek?!?” Pak OB terlihat agak terkejut mendengar perkataanku. Ia langsung berjalan menuju gudang. Akupun meninggalkannya dan menyerahkan alat-alat ke Pak Dokter. Aku minta ijin pada Pak Dokter ke belakang sebentar. Di dalam aku bertemu lagi dengan Pak OB.
“asem ig, beneran ada dek.”
“kangge nopo niku pak?” (buat apa itu pak?)
“ra ngerti aku,” (nggak tau aku)
Aku kembali berjalan ke kamar mandi.
***


Kadang ada praktikan yang datang dan membantu disini. Aku senang sekali, ada yang menemaniku disini, ada yang bisa kuajak mengobrol, tidak melulu pada Pak Dokter ataupun Pak OB. Pernah aku mengajak praktikan-praktikan itu untuk menginap disini. Namun mereka menolak, alasannya? Takut.
“dek, nginep disini dong, nemenin mbak. Mbak kan nggak ada yang nemenin.”
“nggak ah mbak, takut, hehe” jawab si praktikan sambil cengar-cengir.
Jadilah, aku satu-satunya perempuan disini. Bu Bidan sering pergi, ia menerimaku bekerja disini untuk membantu Pak Dokter, mengandalkan para praktikan ora mbejaji (tidak menjanjikan). Bu Bidan sering menelponku, kami juga sering mengobrol satu sama lain saat Bu Bidan ada di RB.
“kamu tu saya suruh kerja disini buat bantu-bantu bapak.” Bu Bidan mengawali percakapan di telepon.
“iya sih buk,”
“bapake malah soyo parah. Tak kon sekolah meneh ben ora nganggur, wis beneran tak bayari, malah ra gelem.” (bapak malah tambah parah. Saya suruh sekolah lagi biar tidak nganggur, saya bayar sekolahnya, malah tidak mau)
“hahaha,” aku hanya tertawa menjawab Bu Bidan yang bicara panjang lebar.
“ibuk tu punya anak satu tapi nggak bener kuliahnya.”
“oh, gitu ya buk. Kuliah dimana buk?” tanyaku dengan sedikit penasaran.
“anak saya itu lulus jadi Sarjana Hukum, tapi nggak jalan dia. Malah di rumah terus. Udah gede gitu masih ngandelin ibuknya. Ya sudah saya suruh kuliah lagi di kebidanan.”
“anak ibuk yang kemaren sama ibuk itu ya?”
“iya, sudah segede itu masih manja, kayak anak kecil.”
“ya namanya juga anak satu-satunya buk.”
“mau manjain anak ya siapa lagi? Anaknya cuma satu. Lama-lama makin ngelunjak” tutur Bu Bidan dengan nada kesal.
“sudah dulu ya mbak, saya barusan dapet panggilan.” Bu Bidan mengakhiri percakapan. Kudengar bunyi keypad HP yang diikuti satu bunyi, tanda percakapanku dengan Bu Bidan lewat telepon sudah berakhir. Aku memandang keluar jendela, dimana sinar diluar selalu lebih terang daripada di dalam kamarku.  Jendela kamarku lebar, dan lagi tempat tidurku dekat dengan jendela, sehingga jika ada gerakan dari luar kamarku, akan terlihat bayangan yang bergerak. Yang membuatku kesal, Pak OB jarang menggunakan alas kaki, padahal dia sering mondar-mandir di luar kamarku, membuatku kaget.
 angin bertiup kencang. Pohon-pohon serasa melambai-lambai seperti memanggilku untuk menghampiri mereka. Aku mulai melamun. Pikiranku melayang.
Aku segera tersadar dari lamunanku. Tak terasa hari sudah beranjak malam.
Kulihat Pak Dokter berjalan menuju dapur. Sekalian saja aku membuat kopi, aku juga tidak berani ke dapur sendirian malam-malam begini. Lalu aku  mengikuti Pak Dokter ke dapur. Tumben sekali Pak Dokter mau masak?
Di dapur, Pak Dokter diam saja. Apa ia tidak tahu aku ada di belakangnya?
Pak Dokter membelakangiku, badannya menghadap tembok. Ia hanya berdiri saja, tak melakukan sesuatu. Aku yang ingin membuat kopi lalu sadar, aku punya penyakit maag. Aku juga selalu gemetaran setelah minum kopi. Aku keluar saja.
Di ruang tamu, aku bertemu Pak OB yang sedang duduk. Seorang praktikan yang menbantu hari ini izin pulang sebentar karna ada urusan. Aku duduk di depan Pak OB. Aku memulai percakapan
“tumben niko Pak Dokter masak.”
“ngomong apa to mbak, orang Pak Dokter lagi dines ke Malang.”
“lha trus yang tadi di dapur siapa? Orang jelas-jelas saya ngikutin Pak Dokter ke dapur.” Aku mulai panik.
“paling juga yang nunggu disini, hahaha” Pak OB menjawab dengan sangat enteng.
“Pak jangan nakut-nakutin gitu ah, saya jadi mrinding ini pak,” aku panik, perasaanku campur aduk. Baru kali ini aku mengalami hal yang aneh. Jelas-jelas tadi aku mengikuti Pak Dokter, tapi Pak OB bilang beliau sedang ada di Malang. Kalau yang tadi bukan Pak Dokter, lalu siapa?
Aku mulai tidak tenang, perasaanku campur aduk antara takut, bingung, panik.
Aku harus tenang, aku tidak boleh takut.
Aku inginmengecek kembali ke dapur, tapi aku terlalu takut. Aku hanya duduk dan mengobrol basa basi dengan Pak OB. Hingga akhirnya mataku terasa berat untuk dibuka, aku segera menuju kamarku dan mengunci pintu. Aku merebahkan tubuhku yang lelah ke kasur yang hanya berukuran 1x1,5 meter. Langit-langit kamar perlahan jadi mengabur, aku terlelap dalam tidurku. Mengarungi dunia fantasi, menjelajahi mimpi, bunga tidur.
***

Aku mendapatkan cerita dari sebuah sumber, aku tidak akan menyebutkan siapa.
Sumber itu menceritakan sejarah RB yang kini kutempati.
Bertahun-tahun yang lalu, RB ini ramai sekali. Sepasang suami istri, yaitu Pak Dokter dan Bu Bidan membangun RB ini dengan uang mereka sendiri, dan juga meminjam uang dari bank. Saat itu mereka sedang berada di puncaknya, pasien datang silih berganti. Pendapatan RB terus meningkat, mereka Berjaya sekali sampai ada satu peristiwa yang langsung menjatuhkan RB ini. Ada dokter yang memperkosa pasiennya, aku tidak tahu yang dimaksud adalah Pak Dokter yang ini atau ada dokter yang lain. Huhuh, dasar dokter gila, tidak waras.
Semenjak peristiwa itu, keluarga korban tidak terima, dan memproses kasus ini melalui jalur hukum. RB ditutup, dan baru 3 bulan yang lalu kembali dibuka. Pantas saja penampilan RB ini buruk sekali, saat aku disuruh mengambil peralatan, banyak sawang (sarang laba-laba) menempel di alat-alat itu. Itu tandanya peralatan ini tidak pernah digunakan. Faktanya peralatan itu memang tidak pernah digunakan.
Tak tahu mengapa aku sering merasakan hawa panas di tengkukku. Panasnya tidak menyebar, tapi hanya di bagian tertentu saja. Aku tidak tahu apa penyebab rasa panas di tengkukku.


Hari ini aku menjalani kegiatanku seperti biasa.
Tak ada yang istimewa. Seharian aku menonton televisi.
Bosan.
**to be continued**


Gimana ni tanggapan kalian?
Maaf klo kependekan, karna aku bikin ini sesuai aslinya, jadinya nggak banyak yang bisa dideskripsiin.
Maaf juga kalo lama, karna jadwalku lagi padet banget, sama kayak upi. #sok sibuk#
Mbak ku jelas-jelas ngikutin si Dokter ke dapur, di dapur pun pak dokter jelas ada disitu.
Kalo pak dokter ternyata ada di Malang, trus yang di dapur siapa coba? Orang disitu cuma bertiga, dikurangi si Pak Dokter pergi. Praktikan nggak ada yang jaga di RB. Aku aja kaget  banget, masa’ makhluk astral kayak gitu bisa menampakkan diri dengan sangat jelas, ampe dikira orang beneran. Aku bener-bener ngelus dada ngedengerin crita-crita mbak ku.
Aku kasih tau juga ya, kalo ngerasain hawa panas cuma di bagian tertentu contohnya tengkuk,  itu artinya ada makhluk astral di deket kalian, itu energy dari makhluk astral yang jahat, yang suka ngeganggu. Kalo dingin, itu berarti makhluk astralnya baik. (aku tau ini dari Masih Dunia Lain sama Mister Tukul)
Nah, pas mbak ku aku critain tentang masalah hawa panas yg dia rasain, dia langsung teriak teriak gitu, hahaha., maklum, kita nggak pernah ada pengalaman diganggu.
Endingnya ada di chapter berikutnya. Tunggu yah


Yang baca baik sengaja maupun tidak disengaja harus like n komen. Jangan diem aja yah, biar aku tau apa yang ada di pikiran kalian tentang cerbung ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya!!!! ^^

0 komentar:

Poskan Komentar