Senin, 18 Juni 2012

RB ANEH CHAPTER 5 #END#

CHAPTER 5


FLASHBACK:
(ada dokter yang memperkosa pasiennya. Keluarga memprosesnya melalui jalur hukum, RB ditutup dan baru 3 bulan lalu dibuka)


Hoaahhhmmm… ternyata sudah pagi lagi. Aku akan menjalani kegiatanku di RB seperti biasa. Aku mau jalan-jalan sebentar di sekitar sini, agar badanku bisa lebih segar.
Kebenaran yang kuketahui tentang penyebab RB ini ditutup, benar-benar membuatku heran. Apa yang ada dipikiran si dokter gila saat itu? Apa dia tidak memikirkan resiko yang dia dapat setelah ia memperkosa pasiennya?
Benar-benar gila. Dia pasti tak memakai akal sehatnya. Dia dibutakan oleh nafsu yang tak terlampiaskan.
Yahhh, aku hanya bisa berkomentar dalam hati, aku pun tak tahu dokter yang dimaksud adalah Pak Dokter atau bukan. Kalau iya, aku  tak akan pernah menginjakkan kaki lagi disini.
“mbak,” panggil Pak Dokter dari kejauhan.
“iya pak,” jawabku agak kencang.
“ada pasien kecelakaan, tolong kesini mbak.”
Pasien kecelakaan lagi? Lalu kapan aku membantu persalinan? Aku ikut sajalah, daripada aku tidak ada kerjaan di RB. Daripada aku harus menonton TV seharian di kamarku.
“iya pak, tunggu sebentar.” Aku berlari menghampiri Pak Dokter, lalu masuk ke dalam RB. Aku melihat sepasang suami istri yang kepalanya berlumuran darah. Tangannya menjuntai dengan darah menetes. Kulihat tulang putih dari kakinya menonjol keluar, dan berlumuran darah juga. Aku merinding melihatnya. Aku tidak merasakan takut yang berlebihan saat menghadapi perdarahan para ibu yang sedang melahirkan. Tapi darah kecelakaan, aku merasa sangat takut saat melihat darah bercucuran dari seseorang yang baru mengalami kecelakaan. Badan mereka pasti rusak, hiiii aku benar-benar merinding.
Aku segera mengambil pinset, gunting, kasa, alkohol, benang jahit, dan benda-benda lain yang akan berguna untuk menangani pasien kecelakaan tadi. Seperti biasa, mereka mengalami patah tulang.
“mbak, darahnya dilap dulu.” Perintah Pak Dokter.
Aku segera mengambil lap basah dan perlahan mengelap kepala, tangan, lalu kaki mereka. Pak Dokter lalu memasang kayu pembidai pada bagian tubuh yang mengalami patah tulang, lalu menggulungnya dengan kain kasa. Setelah itu ia membersihkan luka terbuka di tubuh pasien dengan alkohol. Si pasien mengerang kesakitan, “tahan sedikit ya pak, saya jahit dulu.” Kata Pak Dokter ringan.
Pak Dokter menjahit satu persatu luka si pasien. Setelah selesai ia melepaskan sarung tangan karetnya, lalu menulis surat rujukan untuk si pasien. Selesai menulis surat rujukan, ia memerintahkan untuk memasukkan pasien ke ambulans dan segera membawanya ke rumah sakit. Kami bergerak cepat melaksanakan perintah Pak Dokter. kalau tidak, si pasien bisa kehilangan nyawanya karna kehabisan darah.

Akhirnya pasien dibawa ke rumah sakit.
Huuuhhh, menegangkan sekali. Aku sampai berkeringat begini. Cuaca panas sekali, lebih baik aku masuk.
Pak Dokter kembali ke ruangannya. Aku hanya duduk-duduk di ruang tamu, menikmati angin yang berhembus dari arah pepohonan yang tumbuh rapat-rapat. Angin semilir, yang lama kelamaan berubah jadi dingin.
Sepertinya akan hujan, pikirku. Langit mulai menghitam. Awan mendung mulai bergerak ke arah kami. Angin dingin makin berhembus kencang. Rintik-rintik air mulai berjatuhan. Perlahan makin deras, dan makin deras. Bisa ku cium aroma tanah yang tersirami oleh air hujan. Membuatku merasa nyaman. Mataku mulai berat, pandangan jadi kabur, aku tertidur di sofa ruang tamu yang dingin bagaikan es.

“mbak, mbak.” Kudengar sebuah suara yang kukenal.
Aku segera terbangun dari tidurku yang lelap. Ternyata praktikan yang biasa menemaniku saat jaga di RB.
“Pak Dokter mana?” tanyanya.
“di ruangannya gak ada?” jawabku sambil mengucek-ucek mataku yang masih mengantuk.
“gak ada mbak.”
“paling juga pergi. Mau ngapain nyari Pak Dokter, dek?”
“mau minta tanda tangan Pak Dokter.”
“ohhh.” Hari ternyata sudah sore. Tapi aku merasa masih mengantuk. Mungkin aku terlalu capek. Biarkanlah, lagipula disini jarang ada partus. Sudah jam setengah lima, aku ingin nonton drama korea kesukaanku, 49 days. Aku benar-benar terhibur oleh imajinasi penulis tentang kematian, meskipun kenyataanya tidak seperti di drama itu. Tapi aku suka pemainnya, terutama Shin Yi Kyung. Aku masih ingat dia bermain di drama lain dan berperan sebagai seorang ratu. Apakah dongyi? Aku lupa judul dramanya. Ahhhh, bukan, Shin Yi Kyung bermain di The Great Queen Of Seondeok. Aku suka sekali pada aktingnya, dari Shin Yi Kyung yang cuek, pendiam, tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi Shin Ji Hyun yang ceria, polos, dan manja. Jujur, aku suka sekali pada drama korea. Sebenarnya jalan ceritanya hamper sama dengan sinetron Indonesia, tapi acting orang korea bagus sekali, mereka terlihat natural, dan durasinya tidak terlalu panjang. Tidak seperti sinetron Indonesia, aku benci acting mereka yang sangat dibuat-buat. Siapa yang bisa menangis, langsung dijadikan pemeran utama yang selalu jadi pihak yang teraniaya. Durasinya juga panjang sekali, sampai beratus-ratus episode, yang membuat orang jadi bosan melihatnya. Aku hanya suka drama korea, aku tidak suka k-pop. Aku tidak suka boyband-girlband korea yang gayanya sok imut, dan yang laki-laki seperti wanita. Berkulit putih, cantik, aku tidak suka tipe pria yang seperti itu. Aku lebih suka pria yang berwajah jantan, seperti Lee Min Ho. Adikku suka sekali k-pop, handphone nya penuh berisi foto,lagu dan video-video boyband dan girlband korea.




Hari sudah malam, aku masih di depan TV. Mencari channel yang bagus. Ahhh, ada film. Aku menonton ini saja. Semoga mataku kuat menahan kantuk. Aku mengunci pintu, dan menutup tirai jendela kamarku. Aku membuka kunci pintu lagi dan berjalan menuju dapur. Aku membuat kopi, lalu kembali lagi ke kamarku dan langsung mengunci pintu. Saat aku masuk, kulihat pintu kamar mandi masih terbuka. Aku malas menutupnya.
Filmnya bagus, aku suka. Aku harus kuat menahan kantuk, aku tidak boleh melewatkan film ini. Aku melirik cangkir kopiku, tinggal seperempat. Hoaahhmmm, aku mulai mengantuk.
Mataku mulai berat, berat, makin berat. Aku membuka mataku lagi dan mengucek-ucek mataku. Namun perlahan tapi pasti, mataku kembali berat, makin berat. Tanpa sadar aku sudah terlelap.

Kukuruyuuukkkk….
Oh, sudah pagi. Aishh, aku ketiduran, aku jadi tidak menonton film sampai selesai.
Apa? TV nya sudah dimatikan? Apa??? Siapa yang menutup pintu kamar mandi? Aku segera bangkit dan berjalan menuju cermin dan mengambil sisir.
Apa ini? Kenapa ada bekas cakaran di pipiku? Kenapa ada bekas cakaran hitam di pipiku? Siapa yang melakukannya? Padahal kuku tanganku selalu pendek.
Siapa yang menutup pintu kamar mandi? Siapa yang mematikan televisi? Padahal aku berada di kamar ini dalam keadaan pintu terkunci dan aku belum menutup pintu, aku ketiduran sehingga tidak mematikan televisi. Siapa yang melakukannya?
Aku merasa ketakutan setengah mati. Aku tidak bisa tetap berada disini. Sudah terlalu banyak kejadian aneh yang aku alami selama disini. Aku akan keluar dari sini.
Aku segera mengemasi pakaianku, aku berjalan keluar menuju ruangan Pak Dokter.
“pak, ini kan hari sabtu. Saya mau ijin pulang.”
“oh iya silahkan,tapi hari senin kesini lagi ya mbak,”
“insyaallah pak,”
Aku menelepon ibuku. Aku bilang aku sudah tidak betah disini. Aku meminta ibu agar ayah menjemputku kesini membawa tasku. Sedangkan aku akan naik bis.
Kalau kuhitung-hitung, aku baru 2 minggu disini. Aku tidak sudi menginjakkan kaki lagi disini.
Sampai dirumah,aku menceritakan semuanya. Semua yang ku alami. Aku bilang pada ibu, aku tidak mau dan tidak sudi lagi kerja di RB itu. Terlalu menyeramkan. Ibu menyuruhku mengabdi di puskesmas saja. Aku menuruti perkataan ibu, daripada aku harus kembali ke RB aneh itu.
Hari minggu, aku menelepon Pak Dokter.
“pak, sebelumnya maaf, karna saya gak akan kerja lagi di situ. Karna saya sekarang ngabdi di puskesmas.”
“oohh, begitu ya. Sebenernya sayang sekali, yang bantu saya disini jadi makin dikit. Tapi nggak papa lah, yang penting mbak bisa cocok sama kerjaan di situ” jawab Pak Dokter dengan nada kecewa. Aku jadi merasa bersalah padanya. Tapi apa boleh buat, aku sudah membuat keputusan ini, tekadku sudah bulat, aku tidak mau kembali lagi ke RB itu dengan alasan apapun.
##### END ######


******Bonus*****
“buk, gimana ni. Dari tadi masih bukaan 2. Gak ada perkembangan sama sekali.” Ujarku pada Bu Yayuk.
“iya ni mbak, kita rujuk saja.” Jawab Bu Yayuk dengan raut wajah gelisah.
Kami menghubungi keluarga pasien, dan menyuruh mereka membawa mobil untuk membawa si pasien.
Di tengah jalan, aku melihat si ibu menahan sakit. Aku mengecek apakah ada perkembangan.
Aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat.
“buk, bukaannya sudah lengkap!!!” aku spontan berteriak pada Bu Yayuk. Aku sangat panic.
“wah, terus gimana ini, gak mungkin bisa sampai ke rumah sakit.” Bu Yayuk juga terlihat panik. Ia lalu bicara pada si pasien.
“bu, mbabari mriki mawon nggih bu, mpun lengkap niki.” (bu, melahirkan disini saja ya, bukaannya sudah lengkap) ujar Bu Yayuk masih dengan wajah panik.
Akhirnya kami berhenti di pinggir jalan, lalu menghidupkan lampu mobil.
Prucul, seorang bayi meluncur dari rahim sang ibu. Kulihat posisi bayi tidak seperti biasanya. Badan bayi tidak memposisikan diri dengan baik, sehingga mendesak rahim dan vagina sebelah kiri. Begitu bayi keluar dari rahim, ternyata vagina si ibu sobek dan tidak beraturan. Kami makin panic, kami segera mengebut menuju rumah sakit.
Glogoh, glogoh, darah mengucur deras dari rahim si ibu. Gawat, perdarahan.
“bu, darahnya keluar terus, bagaimana ini???” aku makin panic melihat si ibu yang sudah lemas tak berdaya dengan darah yang terus mengucur dari rahimnya.
“waduh, darahnya keluar banyak sekali. Bisa kehabisan darah dia.”
“trus gimana ini buk?” kami sangat panik. Kalau si ibu sampai meninggal, kami akan mendapatkan masalah yang besar.
“berdoa aja, semoga si ibu bisa selamat sampai di ke rumah sakit.” Bu Yayuk mencoba menenangkanku.
Sepanjang jalan ke rumah sakit kami tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan si ibu. Fwuhh, leganya saat kami sampai di rumah sakit. Kami segera membawa si ibu ke UGD, dan perawat yang berjaga segera membantu kami. Aku berpapasan dengan seorang laki-laki paruh baya, memakai celana jeans pendek, kaos, dan memakai sandal. Kukira dia tukang becak.
“dokternya mana?” Tanya Bu Yayuk pada pada salah seorang perawat.
“saya dokternya.” Pria bercelana jeans pendek itu  menjawab.


Apa?? Dokter?? Kataku dalam hati.
Dunia memang benar-benar gila.


#####_ENJOY_######

0 komentar:

Poskan Komentar