PANGLIMA (CERPEN)


KAU TAKKAN PERNAH TAHU APA YANG TERJADI BESOK, JADI YAKINLAH, SEMUA INDAH PADA WAKTUNYA…

Ah, darah mengalir lagi dari hidungku. Pagi ini aku berjalan sendiri di tengah hutan, membawa 5 potong singkong bakar dari rumah, dan tentu saja air. Aku, gadis kecil berumur 10 tahun yang tak kenal rasa takut. Aku suka jalan-jalan di hutan kerajaanku, Amarta. Yah, meskipun hutan agak gelap, entah mengapa aku tak pernah tersesat. Aku seperti hafal dengan sendirinya. Dalam hutan ini aku merasa tenang, terkadang aku bermain dengan binatang yang mendatangiku. Terkadang pula, muncul bayangan anak-anak kecil sebayaku berlarian melewatiku. Seperti mimpi, tapi aku masih sadar. Entah nyata atau tidak, tapi mereka terasa nyata bagiku. Di balik cahaya matahari yang mengintip lewat sela-sela daun, bayangan mereka berkelebat seperti mengajakku bermain. Pandangan mereka ramah padaku, padahal tetua desa berkata hutan ini penuh misteri. Banyak orang mati babak belur seperti habis dikeroyok. Entahlah, aku belum pernah menemukan sesuatu yang aneh disini. Semua terasa normal bagiku. Aku selalu mengambil tanaman obat disini, karna beberapa jarang ditemukan di desa. Yah, ada untungnya juga aku masuk hutan.
Sraakkk.. kresekkk kresekk..

Apa itu? Aku menelusuri sumber bunyi itu. Samar-samar kudengar seseorang sedang berlari. Makin kudekati, makin jelas. Srakk.. srakk.. srakk.. srakk.. srakk.. aku reflek bersembunyi di balik pohon beringin, cukup besar untuk menyembunyikan tubuh kecilku. Kulihat seorang pria berlari dari arah barat, tubuhnya berlumuran darah. Wajahnya membiru karna pukulan benda tumpul. Kulihat sekelompok pria mengejarnya. Ah, rupanya cerita itu benar.. inikah penyebab orang-orang desa ditemukan tewas babak belur? Tapi apa tujuan mereka membunuhi warga desa kami?
Jleebbb.. kampak menancap di punggung pria itu. Ia jatuh tersungkur. Namun ia bangkit kembali. Dengan darah mengucur, ia berlari kencang melarikan diri. Aku harus lari, aku tidak mau aku terbunuh juga. Mereka tidak punya rasa kasihan, aku takut anak kecil sepertiku juga akan dibunuh.

Hah.. hah..nafasku hampir habis… aku menengok ke belakang. Aku berhenti. Kurasa aku sudah jauh dari mereka. Hah.. hah.. aku merasa akan pingsan.. aku segera duduk di bawah pohon jati yang besarnya kira kira satu dekapan orang dewasa, berusaha mengatur nafasku.
Sraakkkk… Mulutku serasa terkunci, jantungku berdebar makin kencang hingga detaknya terasa sampai ke telingaku. Apakah mereka berhasil menemukanku? Kali ini aku takut, benar-benar takut.. aku tidak mau mati, aku masih punya banyak impian..

krasshh.. krasshh.. bunyi dedaunan terinjak. Kudengar rintihan di belakangku, dan segera berubah menjadi erang kesakitan. Ketakutanku lenyap, aku tersadar, mungkin itu pria yang tadi terluka. Aku bergegas menengoknya. Ia tiba tiba menoleh padaku, dengan tatapan tajam. Namun sedetik berlalu, tatapannya berubah lembut, ia tersenyum padaku.
“kenapa gadis kecil sepertimu berkeliaran disini? Orang tuamu pasti khawatir..”
“aku tak punya orang tua, paman..” jawabku datar. Matanya sedikit membelalak ketika kukatakan bahwa aku yatim piatu.
“bagaimana dengan luka paman?”
“aku sedang menyembuhkannya. Apa kau punya makanan?”
menyembuhkan? Ia hanya duduk diam disini? Apanya yang menyembuhkan? Pikirku dalam hati.

“ini..” aku mengeluarkan singkong bakar dan air putih. Pria itu langsung memakannya dengan lahap. Entah lapar, entah rakus, biarkanlah, kalau itu bisa mencegahnya mati.

“mereka siapa, paman?” tanyaku dengan lugu. “mereka dari kerajaan seberang. Dasar barbar, mereka belum tahu kekuatanku sebenarnya..”
aku hanya menggelengkan kepala melihat paman itu mengeluh.
“Kau takkan tahu apa yang terjadi besok, jadi yakinlah, semua indah pada waktunya..” aku hanya bisa terbengong mendengar kata katanya, menelannya mentah-mentah karena tidak mengerti apa maknanya..


####6 tahun kemudian####

Matahari bersinar terik, membakar kulitku yang kehitaman..

umurku kini 16 tahun. Aku dijodohkan dengan teman kecilku. Meski ini perjodohan, aku bahagia bisa bersamanya..

Paman itu, aku tak lagi bisa mengingat wajahnya.. tapi ingatan tentang tanda lahir di lengannya masih menempel dengan jelas di otakku.

“kau mau ikut melihat pawai di pasar?”
“tentu saja, ayo kita berangkat bersama..” aku tersenyum manis pada suamiku, Yudhistira.
Ia menggandengku, “sebaiknya kita berangkat sekarang, agar dapat tempat di barisan depan" ia membalas senyumanku. Lalu kami berjalan cepat menuju pasar.

>>>>>>>>

“ternyata sudah sesak..” aku memaksa maju dan mencari celah agar bisa berdiri di depan.
“pawai sudah dimulai!” Yudhistira menunjuk gerombolan manusia berpakaian warna-warni, sangat meriah. Genderang dibunyikan, rakyat berpesta…
“itu panglima kerajaan!” orang-orang di sekitarku berteriak sambil menunjuk seorang pria gagah berkuda.

Kuperhatikan pria itu. Wajahnya menimbulkan kesan yang kuat, karismatik. Kupikir ia bisa menaklukkan lawan hanya dengan tatapannya yang mengintimidasi. Tunggu. Aku mengenali sesuatu dari pria itu. Tanda lahir di lengan kirinya. Benarkah ia pria yang kutemui dahulu? Ketika ia berlarian menghadapi musuh, makan dengan lahap di hadapanku, dan memberiku kata-kata yang masih kuingat dengan jelas.. apakah itu berarti pria di hutan itu panglima kerajaan ini? Ah, aku tak yakin..
Tapi.... tanda lahir itu tak mampu berbohong.. itu memang dia.. atau ada orang lain yang bertanda lahir sama? ah, tidak mungkin..

“ada serangan dari Hastinapuraaaaa!!!!!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari pasukan keamanan.
Semua orang berhamburan. Tak beraturan. Berlarian kesana kemari demi menyelamatkan diri. Hujan anak panah menutupi langit Amarta, menutupi matahari yang mulai beranjak menuju ke barat. Darah.. dimana mana.. jeritan manusia-manusia malang tak berdosa.. terinjak, terseret, tertusuk, tersayat, tertancap anak panah, menjerit, merintih, mengerikan! Amarta yang damai dan tenteram kini berubah jadi lautan darah. Aku berlari sekuatnya. Di saat seperti ini, keegoisan manusia muncul ke permukaan. Ya, sepertiku. Yang kini kupikirkan hanyalah cara untuk menyelamatkan diri, tanpa memedulikan orang lain yang tergeletak mengenaskan di sekelilingku.
Aku berlari ke hutan, lalu tiba-tiba aku tersandung tubuh seseorang.
Tidak… itu Yudhistira.. sedang terkapar sekarat..
jiwaku goncang.. kami bahkan belum punya anak, kenapa secepat ini? Air mataku menetes di bajunya.
“a..ku.. beruntung.. bisa.. bertemu denganmu.. untuk... yang terakhir kali..” nafasnya sudah tersengal-sengal.
“tidak, aku akan mencari tanaman obat di sekitar sini..”
“tidak..” ia mencengkeram tanganku. “ini sudah waktuku.. tetaplah disini sampai aku pergi..” Kemudian aku memangku kepalanya..
“suamiku.. aku bahkan belum memberimu apapun…” air mataku terus saja mengalir dan membasahi baju yudhistira.
“drupadi istriku, aku bahagia.. menjadi suamimu.. se..moga.. kita tetap.. bersama.. di .. kehi..dupan selanjutnya... biar kucium.. keningmu..” ia mencium keningku dengan lembut dan kembali berbaring di pangkuanku. Ia membuang nafas.. ia menutup matanya..

“yudhistira.. yudhistira suamiku..”
hatiku bagai tertusuk ribuan jarum. Sakit sekali. Aku kehilangan belahan jiwaku. Air mata makin membanjiri, ingin rasanya hidup ini kuakhiri. Aku berdiri, dan mulai berjalan meninggalkan jasad yudhistira. Maaf aku tak bisa menguburkanmu dengan layak. Semoga kau tak kesepian disini.
Baru beberapa langkah aku berjalan, krasshh, krasshh, krasshh, seseorang berlari menginjak-injak dedaunan kering.
Ia berhenti tepat di depanku. Ia memandangiku yang berdiri mematung. Ia memandang wajahku lekat-lekat, “apakah kau gadis kecil yang melihatku bersimbah darah waktu itu?” ia bicara padaku. Aku hanya mengangguk ragu-ragu. Aku masih terguncang dengan kematian suamiku.
Pria itu, pria di depanku, wajahnya yang agak keriput penuh dengan luka. “kau sudah besar sekarang.” Ia mendekatiku. Itu Panglima Sumantri, pria yang kutemui bersimbah darah di hutan semasa kecil. Kini kami dipertemukan kembali dengan keadaan yang sama. Pria itu bersimbah darah.
Aku membawanya ke rumah dan mengobati lukanya. Karena sudah tua penyembuhannya jadi lebih lama, ia lalu tinggal di rumahku selama beberapa saat.

Waktu berlalu dengan cepat, ia jadi seperti ayahku sendiri. Ia mengajariku ilmu pengendalian darah hingga aku cukup mahir menggunakannya. Dengan sisa-sisa yang ada, kami, rakyat kerajaan Amarta membangun kembali kerajaan kami yang porak poranda. Kini aku bisa melindungi diri.
“tugasku sudah selesai, aku akan kembali ke istana.”
“bagaimana denganku paman?” aku tak sanggup membayangkan hidup sendiri dan kesepian.
“kau.. ikutlah denganku ke istana, akan kujadikan kau anak angkat.” Aku tersenyum riang, aku akan punya ayah..
Namun tiba-tiba segerombol pasukan datang. “panglima Sumantri! Kami mendapat perintah dari Raja untuk menangkap anda atas tuduhan kudeta!” ujar salah seorang prajurit.
“hehehheehheh..” ia tertawa terkekeh.
“apa bukti yang kalian punya kalau aku yang merencanakan kudeta?” ia terlihat seperti manusia aneh, tak seperti biasanya. Aku terkejut setengah mati mendengarnya berbicara seperti orang yang benar-benar asing. Apakah selama ini ia memakai topeng? berapa topeng yang ia punya?

Ia mengambil botol kecil berisi cairan hitam dari kantong yang menggantung di pinggangnya. Ia meneguk tanpa ragu. Sepertinya itu obat yang biasa ia minum.
kurang dari satu menit, panglima tua itu terbatuk-batuk, mulutnya mengeluarkan darah. Ia jatuh, tak sadarkan diri. “panglima tidak bernafas!!!” teriak prajurit yang menangkapnya ketika jatuh. aku langsung menghampiri paman dan memeriksanya. Ia tak bernafas. Sebenarnya apa yang paman minum? Aku cepat-cepat mengambil botol kecil yang tergeletak di tanah.
“dia minum racun!!!” aku berteriak dengan suara parau, tenggorokanku serasa tercekat. Air mataku mengalir deras.
Ya, paman sudah meninggal.. aku hanya bisa menangisi kepergiannya.. keinginan dan harapanku untuk punya orang tua pupus seketika..
inikah akhirnya? kenapa berakhir seperti ini? ini tidak benar, ini terlalu cepat. Untuk apa ia minum racun? belum terbukti kalau ia dalang kudeta. aku tak tahu. apakah ini nyata? aku pasti bermimpi.
Aku.. aku  bahkan tak tahu sifat sebenarnya dari paman.. apa yang ada di pikirannya.. apa yang ada di dalam hatinya..
Setelah ini apa yang akan kulakukan? aku tak punya siapapun.
Apakah aku harus tetap hidup?

##################### END ######################


Komentar

Postingan Populer