Minggu, 29 Juli 2012

PANGLIMA (CERPEN 1 SHOOT)


KAU TAKKAN PERNAH TAHU APA YANG TERJADI BESOK, JADI YAKINLAH, SEMUA INDAH PADA WAKTUNYA…
Ah, darah mengalir lagi dari hidungku. Pagi ini aku berjalan sendiri di tengah hutan, membawa 5 potong singkong bakar dari rumah, dan tentu saja air. Aku, gadis kecil berumur 10 tahun yang tak kenal rasa takut. Aku suka jalan-jalan di hutan kerajaanku, Amarta. Yah, meskipun hutan agak gelap, entah mengapa aku tak pernah tersesat. Aku seperti hafal dengan sendirinya. Dalam hutan ini aku merasa tenang, terkdang aku bermain main dengan binatang yang mendatangiku. Terkadang pula, muncul bayangan anak anak kecil sebayaku berlarian melewatiku. Seperti mimpi, tapi aku masih sadar. Entah nyata atau tidak, tapi mereka terasa nyata bagiku. Di balik cahaya matahari yang mengintip lewat sela-sela daun, bayangan mereka berkelebat seperti mengajakku bermain. Pandangan mereka ramah padaku, padahal tetua desa berkata hutan ini penuh misteri. Banyak orang mati babak belur seperti habis dikeroyok. Entahlah, aku belum menemukan sesuatu yang aneh disini. Semua terasa normal bagiku. Aku selalu mengambil tanaman obat disini, karna beberapa jarang ditemukan di desa. Yah, ada untungnya juga aku masuk hutan.
Sraakkk.. kresekkk kresekk..
apa itu? Aku menelusuri sumber bunyi itu. Samar samar kudengar seseorang sedang berlari. Makin kudekati, makin jelas. Srakk.. srakk.. srakk.. srakk.. srakk.. aku lalu bersembunyi di balik pohon beringin, cukup besar untuk menyembunyikan tubuh kecilku. Kulihat seorang pria berlari dari arah barat, tubuhnya berlumuran darah. Wajahnya membiru karna pukulan benda tumpul. Kulihat sekelompok pria mengejarnya. Ah, rupanya crita itu benar.. ini penyebab orang orang desa ditemukan tewas babak belur. Tapi apa tujuan mereka membunuh warga desa kami?
Jleebbb.. kampak menancap di punggung pria itu. Ia jatuh tersungkur. Namun ia bangkit kembali. Dengan darah mengucur, ia berlari kencang melarikan diri. Aku harus lari, aku tidak mau aku terbunuh juga. Mereka tidak punya rasa kasihan, aku takut anak kecil sepertiku juga akan dibunuh.

Hah.. hah..nafasku hampir habis… aku menengok ke belakang. Aku berhenti. Kurasa aku sudah jauh dari mereka. Hah.. hah.. aku merasa akan pingsan..

aku duduk di bawah pohon jati yang besarnya kira kira satu dekapan orang dewasa. Sraakkkk…
Mulutku serasa terkunci, jantungku berdebar makin kencang hingga detaknya terasa sampai ke telingaku. Apakah mereka berhasil menemukanku? Kali ini aku takut, benar-benar takut.. aku tidak mau mati, aku masih punya banyak impian..

krasshh.. krasshh.. bunyi dedaunan terinjak. Kudengar rintihan di belakangku, dan segera berubah menjadi erang kesakitan. Ketakutanku lenyap, aku tersadar, mungkin itu pria yang tadi terluka. Aku bergegas menengoknya. Ia tiba tiba menoleh padaku, dengan tatapan tajam. Namun sedetik berlalu, tatapannya berubah lembut, ia tersenyum padaku.
“kenapa gadis kecil sepertimu berkeliaran disini? Orang tuamu pasti khawatir..”
“aku tak punya ortu, paman..” jawabku datar. Matanya sedikit membelalak ketika kukatakan bahwa aku yatim piatu.
“bagaimana dengan luka paman?”
“aku sedang menyembuhkannya, apa kau punya makanan?”
menyembuhkan? Ia hanya duduk diam disini? Apanya yang menyembuhkan? Pikirku dalam hati.

“ini..” aku mengeluarkan singkong bakar dan air putih. Pria itu langsung memakannya dengan lahap. Entah lapar, entah rakus, biarkanlah.. biar paman itu sejenak makan..

“mereka siapa, paman?” tanyaku dengan lugu. “mereka dari kerajaan seberang. Dasar bar bar, mereka belum tahu kekuatanku sebenarnya..”
aku hanya menggelengkan kepala melihat paman itu mengeluh.
“Kau takkan tahu apa yang terjadi besok, jadi yakinlah, semua indah pada waktunya..” aku hanya bisa terbengong mendengar kata katanya..


####6 tahun kemudian####

Matahari bersinar terik, membakar kulitku yang halus putih namun kini kehitaman..

umurku kini 16 tahun. Aku dinikahkan dengan teman kecilku. Meski ini perjodohan, aku bahagia bisa bersamanya..
Paman itu, aku tak mengingat wajahnya.. tapi satu yang tak pernah kulupakan sedetik pun..
Tanda lahir di lengannya..

“kau mau ikut melihat pawai di pasar?”
“tentu saja, kita berangkat bersama..” aku tersenyum manis pada suamiku, Yudhistira..
Ia menggandengku. “sebaiknya kita berangkat sekarang, agar dapat tempat di barisan depan,,

>>>>>>>>

“ternyata sudah sesak..” aku memaksa maju dan mencari celah agar bisa berdiri di depan.
“pawai sudah dimulai!” Yudhistira menunjuk gerombolan manusia berpakaian warna warni, sangat meriah. Genderang dibunyikan, saatnya rakyat berpesta…
“itu panglima kerajaan!” orang orang di sekitarku berteriak sambil menunjuk seorang pria gagah berkuda.

kuperhatikan pria itu, sepertinya aku mengenali sesuatu dari pria itu.. tanda lahir di lengan kirinya. Benarkah ia pria yang kutemui dahulu? Ketika ia berlarian menghadapi musuh, makan dengan lahap di hadapanku, dan memberiku sebuah kata yang masih kuingat dengan jelas.. apakah itu berarti pria di hutan itu panglima kerajaan ini? Ah, aku tak yakin..
Tapi.... tanda lahir itu tak mampu berbohong.. itu memang dia..

“ada serangan dari Hastinapuraaaaa!!!!!” terdengar teriakan dari pasukan keamanan.
Tiba-tiba semua orang berhamburan. Tak beraturan. Berlarian kesana kemari demi menyelamatkan diri. Hujan anak panah menutupi langit Amarta, menutupi matahari yang mulai beranjak menuju ke barat. Darah.. dimana mana.. jeritan manusia manusia malang tak berdosa.. terinjak, terseret, tertusuk, tersayat, tertancap anak panah, menjerit, merintih, mengerikan! Amarta yang damai dan tenteram kini berubah jadi lautan darah. Aku berlari sekuatnya. Di saat seperti ini, keegoisan manusia sering muncul. Ya, sepertiku. Yang kini kupikirkan hanyalah cara untuk menyelamatkan diri, tanpa mempedulikan orang lain yang tergeletak mengenaskan di sekelilingku.
Aku berlari ke hutan, lalu tiba-tiba aku tersandung tubuh seseorang.
Tidak… itu Yudhistira.. sedang terkapar sekarat..
jiwaku goncang.. kami bahkan belum punya anak, kenapa secepat ini? Air mataku menetes di bajunya.
“a..ku.. beruntung.. bisa.. bertemu denganmu.. utk... yg terakhir kali..” nafasnya sudah tersengal-sengal.
“tidak, aku akan mencari tanaman obat di sekitar sini..”
“tidak..” ia mencengkeram tanganku. “ini sudah waktuku.. tetaplah disini sampai aku pergi..” Kemudian aku memangku kepalanya..
“suamiku.. aku bahkan belum memberimu apapun…” air mataku terus saja mengalir dan membasahi baju yudhistira.
“drupadi istriku, aku bahagia.. menjadi suamimu.. se..moga.. kita tetap.. bersama.. di .. kehi..dupan selanjutnya... biar kucium.. keningmu..” ia mencium keningku dengan lembut dan kembali berbaring di pangkuanku. Ia membuang nafas.. ia menutup matanya..

“yudhistira.. yudhistira suamiku..”
hatiku bagai tertusuk ribuan jarum. Sakit sekali. Aku kehilangan belahan jiwaku. Air mata makin membanjiri, ingin rasanya hidup ini kuakhiri. Aku berdiri, dan mulai berjalan meninggalkan jasad yudhistira. Semoga kau tak kesepian disini.
Baru beberapa langkah aku berjalan, krasshh, krasshh, krasshh, seseorang berlari menginjak-injak dedaunan kering.
Ia berhenti tepat di depanku. Ia memandangiku yang berdiri mematung. Ia memandang wajahku lekat-lekat, “aku masih mengenalimu nak, kau ingat aku?” ia bicara padaku. Aku hanya mengangguk ragu ragu. Aku masih terkejut dengan kematian suamiku.
Pria itu, pria di depanku, kurasa ia bertambah tua.
Wajahnya yang agak keriput penuh dengan luka. “kau sudah besar sekarang.” Ia mendekatiku. Itu Panglima Sumantri, pria yang kutemui di hutan semasa kecil. Aku membawanya ke rumah dan mengobati lukanya. Karna sudah tua penyembuhannya jadi lebih lama, ia lalu tinggal di rumahku selama beberapa saat.
Waktu berlalu, ia jadi seperti ayahku sendiri. Ia mengajariku ilmu pengendalian darah hingga aku cukup mahir menggunakannya. Dengan sisa sisa yang ada, kami, rakyat kerajaan Amarta membangun kembali kerajaan kami yang porak poranda. Kini aku bisa melindungi diri.
“tugasku sudah selesai, aku akan kembali ke istana.”
“bagaimana denganku paman?” aku benar-benar tidak rela ditinggal sendirian oleh paman itu.
“kau.. ikutlah denganku ke istana, akan kujadikan kau anak angkat.” Aku tersenyum riang, aku akan punya ayah..
Namun tiba-tiba dua pasukan datang. “panglima Sumantri! Kami mendapat perintah dari Raja untuk menangkap anda atas tuduhan kudeta!” ujar salah seorang prajurit.
“hehehheehheh..” ia tertawa terkekeh.
“akhirnya aku ketahuan.. semuanya aku yang merencanakan.. penyerangan kemarin, dan yang lainnya.. hehehheh..” ia terlihat seperti manusia aneh, tak seperti biasanya. Aku terkejut setengah mati mendengarnya. Jadi selama ini ia memakai topeng? Bagaimana bisa orang baik seperti dia tega merencanakan kudeta?
“kau.. drupadi.. jaga dirimu baik baik..” ia mengambil botol kecil berisi cairan hitam seperti obat. Ia meneguknya tanpa ragu. Sepertinya itu obat.
“kalian, aku punya satu permintaan. Bisakah kalian menunggu sebentar. Badanku rasanya lelah sekali. Ijinkan aku tidur sebentar. Setelah aku terlelap, kalian boleh membawaku pergi.” Para prajurit itu mnyetujui tanpa berani melawan panglima Sumantri yang notabene atasan mereka. Sang panglima duduk, semenit kemudian matanya tertutup. 2 orang prajurit maju untuk membawanya.
“panglima tidak bernafas!!!” aku langsung menghampiri paman dan memeriksanya. Ia tak bernafas. Sebenarnya apa yang paman minum? Aku berlari memeriksanya.
“ia meminum racun!!!” aku berteriak ke arah para prajurit, namun beberapa detik setelah itu, tenggorokanku serasa tercekat. Air mataku mengalir..
ya, paman sudah meninggal.. aku hanya bisa menangisi kepergiannya.. keinginan dan harapanku untuk punya orang tua pupus seketika..
Aku.. aku  bahkan tak tahu sifat sebenarnya dari paman.. apa yang ada di pikirannya.. apa yang ada di dalam hatinya..
Ia.. sungguh sebuah misteri bagiku..
##################### END ######################
maap klo critanya rada gaje

0 komentar:

Poskan Komentar