Minggu, 18 November 2012

Jiyeon? Gikwang? Part I



SUNGAI HAN,  pukul 11 malam di musim semi.
Sebuah benda berpijar merah jatuh dari langit seperti akan jatuh menuju sungai Han. Orang-orang berteriak “apa itu?!?!?!?” “benda apa itu?!??” sambil menunjuk nunjuk benda itu. Namun tak seorang pun mencoba untuk mengetahui dan mendatangi benda yag jatuh ke bumi itu. Mereka melanjutkan perjalanan, karna malam telah larut dan mereka terlalu lelah bekerja.

SUNGAI HAN, tengah malam
Seorang pemuda berumur sekitar 17-an sedang berjalan sendirian di pinggir sungai Han. Ia terlihat sendirian saja, di malam yang dingin dan sunyi senyap Sisa sisa salju masih teronggok di pinggir jalan. Lalu lintas pun begitu sepi, hanya segellintir kendaraan yang melintas.. Tak ada orang yang lalu lalang di sekitar sungai Han. Mungkin karena sudah larut malam. Pemuda itu berkata, “sepi sekali malam ini. Brrrr, dingin.” Ia berulang kali meniup tangannya yang nyaris membeku. Ia berjalan sambil memandangi bunga yang mulai mekar di pinggir jalan. Sebentar lagi akan mekar, pasti dangat indah,  pikirnya. Ia mengalihkan pandangannya ke air. ia melihat sebuah benda besar misterius mengambang di atas air. ia mengerutkan dahi, dan menajamkan penglihatannya. “apa itu?” gumamnya. “astagaaaa!!!!” ia berlari ke arah benda itu. Ia segera membuka mantel tebalnya dan segera terjun ke air. ia mengangkut benda itu ke pinggiran. Ternyata seorang gadis. Wajahnya sudah pucat memutih karna lama terendam air dingin. Pemuda itu lalu mencari tanda-tanda kehidupan yang mungkin masih ada pada tubuh gadis itu. “semoga belum mati,” katanya lirih. Ia mencari denyut nadi gadis itu, “aishhh, percuma saja, pembuluh darahnya sudah menciut.” Ia lalu menempelkan jarinya ke hidung gadis itu, Bingo!! Dia masih bernafas. Satu persatu ia melepaskan baju gadis itu dan menyelimutinya dengan mantel yang tadinya ia kenakan. Ia mengangkat gadis itu ke rumahnya dengan pertimbangan bahwa rumah sakit tidak cukup dekat bila dibandingkan dengan rumahnya. Lagipula di rumahnya ada alat pemanas ruangan. Sambil berjalan, ia berkata “jangan mati, jangan mati, jangan mati. Bertahanlah nona.”
###DI RUMAH###
“gawat, aku terkena hipotermia ringan.” Ia meninggalkan gadis itu di tempat tidurnya. Ia segera ganti baju dan memakai 2 lapis sweater. Ia berlari ke arah gadis itu, dan memakaikannya pakaian berlapis-lapis. Ia mengambil kursi dan duduk di samping gadis yang tak sadarkan diri itu. Ia memandang lekat-lekat wajah gadis itu. “ kau cantik sekali…. seperti malaikat,” katanya lirih. Ia pun mulai berpikir apa penyebab gadis itu jatuh di air. apakah ia bunuh diri? Atau percobaan pembunuhan? Dimana keluarganya? Dimana rumahnya? Begitu banyak pertanyaan melintas di pikirannya. Namun setelah lama ia duduk terdiam, ia merasakan matanya mulai berat. ia tertidur lelap dengan posisi terduduk.
***
Seorang gadis terbangun dari tidurnya. Ia melihat langit-langit kamar yang berbeda dari biasanya. Ia bangun dengan tergesa. “katakan dimana ini?” ia menoleh pada seorang pemuda yang masih terlelap di sampingnya. Ia masih tak bergerak, ia masih tidur. Gadis itu pun mengguncang-guncang tubuh si pemuda, namun ia tak kunjung terbangun. “hey, bangun. Katakan dimana ini?” namun pemuda itu tidak juga bangun. “hey, ayo bangun, apa ini rumahmu?” ia kembali mengguncang-guncang tubuh si pemuda. “hey!!!! Bangunnnn!!!!” teriaknya dengan kesal. Pemuda itu pun bangun. “hoahhmm… kau sudah bangun?” sambil mengucek-ucek matanya. “dimana ini? Oh tidak, apa kau yang mengganti pakaianku?” ia menyilangkan tangan di dadanya.
“Tentu saja, aku tidak bisa membiarkanmu mati di sungai yang dingin. Lagipula tadi malam tidak ada orang sama sekali.” Pemuda itu berjalan menuju dapur. “oh tidak, dia sudah melihat semuanya… babo, babo, babo, kenapa juga sunbae (senior) menjatuhkanku tepat di Sungai Han?” katanya lirih sambil memukul-mukul kepalanya.
 “hey!! apa kau melakukan sesuatu yang aneh padaku?!?!?” Teriak gadis itu. “dengan gadis yang sedang pingsan? Hahah, yang benar saja!!!” balas si pemuda dengan teriakan juga. “syukurlah,” gadis itu bergumam.
“kau lapar??????” teriak si pemuda dari dapur. “yaaa!!! Aku sangat lapar!!!”
Beberapa menit kemudian,  si pemuda membawa dua bungkus mi ramen instan yang masih panas. “ahhh, kesukaanku.” Ujarnya sambil tersenyum riang.
“siapa namamu?” Tanya si pemuda. Lalu gadis itu menjawab, “park ji yeon imnida. Oh ya, siapa namamu?” “lee gi kwang” jawabnya singkat. “oh, lee gi kwang.” Ia mengangguk-anggukan kepalanya. “boleh aku tahu dimana rumahmu? Sekalian saja aku antar kau pulang.”
“heeuh? Rumah? Mmhh..” gadis itu gelagapan menjawabnya. “oh, maaf, aku tidak bermaksud mengganggu privasimu.”pemuda itu tampak menyesal. “kalau begitu nanti kupanggilkan taksi saja.” Ujarnya lesu.

 Tiba-tiba jiyeon seperti mendapat bisikan dari seseorang. “Ichon, aku tinggal di distrik Ichon,” jawab ji yeon dengan percaya diri. “bagus, rumahmu dekat sini. jam berapa ini?” gi kwang menengok jam dinding. Masih jam setengah lima pagi.
“aku akan mandi, kau tunggu disini. Nanti kau aku antar pulang. Kau sekolah juga kan?”
“ahh, i- iya terima kasih.” Jawabnya gagap. Bagaimana ini? Sunbae  tidak memberiku informasi yang lengkap tentang tempat tinggalku. Haahhh, bagaimana ini? Ujar jiyeon dalam hati.
Tiba-tiba ada suara bisikan lagi. “hey, jangan mengungkit nama sunbae mu.”
Jiyeon tergagap “joeseonghamnida sunbae, joeseonghamnida.” (aku mohon maaf senior) Ia terus menerus meminta maaf sambil menutup matanya.
“hmm, boleh aku tidur lagi?” Tanya jiyeon sambil menutupi wajahnya dengan selimut. “tentu saja, tapi jam 6 kau harus pergi.” Jawab gi kwang sambil memungut handuk yang tergeletak di lantai sejak tadi malam.
***
“bangun, waktunya pulang.” Gikwang mengguncang-guncang tubuh jiyeon. “aishhh, cepat sekali. Aku masih mengantuk.” Jiyeon mengucek-ucek matanya yang berbelek (belekan kaya yang nulis, hahah)
Jiyeon membuka matanya. Dalam  pandangannya yang kabur, ia melihat seorang pemuda yang sangat tampan. Jiyeon tak berkedip melihatnya. Tanpa sadar, ia berkata, “astaga, apa kau juga malaikat seperti kami?” katanya lirih. Namun pemuda itu malah mengerutkan dahinya. “kau ini bicara apa? Apa kau tahu, kau membuatku melambung karna mengatakan aku seperti malaikat. Ayo bangun,” jiyeon tersadar, yang dilihatnya adalah gikwang. “hey, tunggu, apa maksudmu mengatakan apa aku malaikat seperti kalian? Aku tidak mengerti. Apa yang kau maksud dengan ‘kami’ ?” Gi kwang terlihat penasaran. “hmm, euh, euh, spertinya aku bicara ngelantur. Baiklah, ayo kita pergi.” Jiyeon melipat selimutnya, sementara itu gi kwang memakai jas sekolahnya. Ia sudah memakai seragam sekolahnya lengkap dan rapi. Ia terlihat sangat mempesona. Tubuhnya yang tinggi semampai, bahu yang tidak terlalu lebar and tidak terlalu sempit, perutnya yang six pack chocolate abs, dan terutama parasnya yang rupawan. Parasnya manis, namun tetap menunjukkan sisi maskulinnya. Seragam sekolahnya, terlihat sangat pantas dikenakannya. Pantas saja, jiyeon menyebutnya malaikat seperti dirinya.
Gikwang mengantar jiyeon dengan motornya. Sepanjang jalan, jiyeon terus memikirkan apakah dia akan bertahan di dunia manusia. “tentu saja, aku sudah dilatih selama lima tahun langit untuk ditugaskan di dunia manusia. Aku pasti bisa bertahan.” Ujarnya dalam hati. Ia melihat kiri kanan jalan, ternyata dunia manusia tidak seburuk yang ia pikirkan, lumayan juga.
“belok ke kanan,” jiyeon menunjuk sebuah jalan. Gikwang menuruti perkataanya, ia membelokkan motornya.  Ciiiiitttt!!! Gikwang hampir menabrak seorang pejalan kaki. Ia langsung berhenti dan membuka helmnya. “joeseonghamnida, saya tidak sengaja. Maafkan saya, maafkan saya.” Ia membungkuk-bungkukkan badannya pada pejalan kaki itu. “gwaenchanhayo, ini juga salahku. Budimu baik sekali, nak. Kau pasti hidup dalam lingkungan yang baik.” Jawab pejalan kaki itu. “ohhh, jeongmal gamsahamnida, nenek membuat saya malu, hahaha,” gi kwang tertawa namun agak tersipu mendengar perkataan pejalan kaki itu. Mereka melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah besar berhalaman luas. Rumput-rumputnya dipotong secara berkala sehingga terlihat rapi. Bunga bunga warna warni mekar di taman kecil di sudut halaman rumah itu. “wow, rumahmu bagus,” kata gikwang. “ah, kau ini. Ini ejekan atau pujian?” jawab jiyeon kesal. “tentu saja pujian,” jawab gikwang singkat sambil tersenyum. “kalau begitu aku pulang dulu, setelah ini aku mau berangkat sekolah.” Gikwang menghidupkan kembali mesin motornya. Ia melaju pelan meninggalkan rumah jiyeon. “terima kasih!! kapan-kapan mampirlah kesini!!!” teriak jiyeon.
***
gikwang memarkirkan motornya. Ia melepaskan helm yang membuatnya sesak, dan sangat pengap. Ia melangkahkan kakinya menuju kelasnya di sudut sekolah. Di sebuah lorong, ia melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan Jiyeon sedang berjalan sendirian. Ia mendekati gadis itu untuk memperjelas penglihatannya. “apakah itu benar-benar nona park jiyeon?” ia melangkah agak cepat, ia sedikit terkejut akan apa yang dilihatnya.
. “Nona Jiyeon!” gikwang memanggil gadis itu. “ya??” gadis itu menoleh. Gikwang sangat terkejut, itu benar-benar jiyeon!! “hh-he-hey, kau sekolah disini?” bibir gikwang terlihat bergetar.
“Kau ini keterlaluan. 2 tahun kita di sekolah yang sama dan kau tidak mengenalku? Kau ini benar-benar...” Jiyeon tampak kesal.
“mian mian, aku seperti tidak pernah melihatmu. Sungguh, aku merasa belum pernah melihatmu. Tapi, kenapa kau seperti tidak kenal padaku saat dirumahku tadi?” jawab gikwang lesu.
“hahaha, aku hanya mengetesmu. Saat kau tanya namaku, aku pikir kau hanya bercanda, jadi aku mengetesmu dengan pura-pura tidak mengenalmu. Ternyata lebih parah dari dugaanku.” Jiyeon menjawab sambil tersenyum geli.
Dalam hati jiyeon berkata  “2 tahun sekolah disini? Hahahahaha… yang benar saja. Aku baru 2 hari disini. Semua orang di dunia ini sudah diset untuk tahu bahwa aku sekolah 2 tahun disini, dan mereka juga sudah diset untuk mengenalku dg baik. Hanya kau yang tidak mengenalku, kau tahu?”
“masuklah ke kelas,” jiyeon berkata sambil berjalan menjauh. “nanti pulanglah bersamaku, aku ingin mampir ke rumahmu!!” gikwang agak berteriak saat mengucapkannya. “baiklah!” jiyeon mengangkat tangannya dan melambaikan tangan dengan posisi membelakangi gikwang. Jiyeon terus berjalan, gikwang terus memperhatikannya. Gikwang lalu masuk ke kelasnya.

Teeeeenggg!!!! Bel tanda jam makan siang berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Jiyeon melangkah dengan agak lesu. Ia masih bingung. Setelah ini apa yang akan dilakukannya? Tugasnya tidak begitu jelas. Atasan tertinggi menugaskan jiyeon untuk menjaga seorang pria di bumi. dan Sunbae nya tidak memberitahu siapa pria itu. Ia hanya bilang, dengan sendirinya kau akan menemukanya. Namun ia bimbang, apakah Gikwang? Atau mungkin orang lain? Ia masih ragu kalau pria yang dimaksud adalah gikwang. Bahkan ia baru 2 hari disini. Walaupun ia sudah menjalani pelatihan selama 5 tahun, ia belum bisa beradaptasi pada keadaan di lapangan. Ia lalu mencari tempat yang agak sepi. Ia ingin istirahat. Setelah berjalan beberapa lama, ia menemukan tempat yang pas untuknya beristirahat. Ada bangku panjang dan ia berlari kecil ke bangku itu. Sejenak, ia melepaskan penatnya, menghilangkan lelahnya, ia tiduran di bangku itu. Sambil tiduran, ia memikirkan nasibnya di dunia manusia. Semoga aku bisa secepatnya menemukan pria itu.
Ting!
“jiyeon-ah.” Ia mendengar suara seorang gadis memanggilnya. Ia segera beranjak.
“Eunjung eonni? Kenapa kakak disini??” jiyeon terlihat heran akan kedatangan Eunjung. Eunjung memakai seragam yang sama dengannya. Jadi tidak akan ada orang yang mencurigainya.
“memangnya kenapa? Karna pelatihanku belum selesai jadi aku tidak boleh jalan jalan disini?” Eunjung terlihat kesal.
“hahahaha, tentu saja tidak. Eonni belum selesai karna mengambil cuti kan?”
“yah, begitulah.. aku kesal dipermalukan oleh malaikat-malaikat lain, terutama para sunbae. Lebih baik aku jalan-jalan. Dunia manusia lumayan juga” ia memandang kukunya yang indah karna telah di many-pady.
“aku rindu eonni!!!” jiyeon menghambur memeluk Eunjung. “aisshh, kau ini. Baru dua hari sudah seperti ini. Bagaimana nanti..” Eunjung membalas memeluk Jiyeon.
Ting! Eunjung menghilang. Jiyeon kebingungan, jangan-jangan eonni Eunjung sudah pergi.
Ting!
“Kau mencariku?” tiba-tiba Eunjung sudah berada di belakangnya. “eonni, jangan terlalu sering memperlihatkan kemampuanmu, bagaimana kalau ada manusia yang melihatnya?” Jiyeon menarik tangan Eunjung. “mian, aku lupa, hak hak.” Eunjung tertawa geli sambil menutup mulutnya.
Ting! Seorang pemuda berwajah manis muncul di depan Jiyeon dan Eunjung. “hoooyyy!!! Kaaauuu!!!!” Jiyeon dan Eunjung berteriak hampir bersamaan. “jangan berteriak padaku seperti itu!!!” pemuda itu terlihat kesal. “hey anak kecil, mau apa kau kesini?” Jiyeon memukul kepala pemuda itu. “jangan panggil aku anak kecil!! Aku hanya 1 tahun lebih muda dari kalian!” wajah pemuda itu makin cemberut. Bibir bagian bawahnya agak maju kedepan. Itu ciri khas Thunder saat sedang kesal.
“hahaha, dia marah..” Eunjung mengacak-acak rambut pemuda itu. “untuk apa kau kesini thunder? Kau merindukan kakakmu?” sambungnya. “siapa yang akan rindu pada kakak yang galak seperti kak Jiyeon?” gumam Thunder. “tentu saja kaauu!!! hahahahaha” Jiyeon dan Eunjung lagi lagi berteriak bersamaan.
“aku hanya penasaran pada dunia manusia.” Ujar Thunder sambil melihat sekelilingnya. Ia agak memanyunkan bibirnya.
“pulanglah!” Jiyeon mencubit kedua pipi Thunder. “tidak mau!” Thunder melepaskan tangan Jiyeon yang mencubit pipinya. “pulanglah!!!!!” Jiyeon membentak adiknya.
“iya!! aku pergi nenek sihir, weekkk!!!” Thunder menjulurkan lidahnya. Ting! Ia menghilang.
“aisshhh, anak itu..” jiyeon mengepalkan tangannya.
Sementara itu kejauhan, Gikwang melihat semuanya. “aku pasti sudah gila. Aku mulai berhalusinasi. Sebenarnya siapa gadis itu?” gikwang memukul-mukul kepalanya. Ia merasa sudah gila. Ia melangkah pelan ke kelasnya dengan masih memukul kepalanya.
***

0 komentar:

Poskan Komentar