Selasa, 19 Juli 2016

I FINALLY FOUND SOMETHING

Semakin dewasa engkau, semakin engkau merasa bahwa 24 jam itu sangat kurang untuk siklus harianmu. Waktu tidak lagi berjalan lama seperti waktu bermainmu semasa kecil.

       Yah, ini minggu terakhir kuliah di semester dua, sebentar lagi uas. Aku tidak bisa lagi menolak bahwa aku takut menghadapi uas, sangat takut, sangat-sangat takut. Waktu sudah habis, dan aku tidak bisa lagi mengeluh bahwa aku kurang usaha. ya, memang semuanya sudah terlambat, aku sangat tertinggal di berbagai mata kuliah. Usahaku tidak sebesar semester lalu. Tapi ah, sudahlah, tidak ada gunanya aku mengeluh lagi. Yang bisa kulakukan hanya berusaha sekarang.

       Aku menemukan motivasi untuk tetap berjuang di sini. Baiklah, anggap saja keluhanku kemarin hanya proses menuju tujuanku, dan aku berdoa semoga aku bisa bertahan sampai akhir. Aku menemukan motivasi, aku ingin mengikuti event-event besar kampus, dan tidak melewatkan tiap tahunnya. Untuk event terdekat, aku menjadi panitia konser paduan suara. Persembahan sendratari untuk Dies Natalis juga masuk dalam daftar wajibku. Tak apa merelakan hari liburku untuk latihan menari dan latihan untuk konser. Aku seperti anak kecil tak bisa tidur karena esok pagi dia akan pergi tamasya. Aku ingin melakukan kegiatan itu dengan sukacita, melepaskan semua emosi yang pernah mengendap.

       Aku juga ingin menjelajahi tempat-tempat di Jakarta, dari ujung ke ujung, sampai ke sekitarnya. lomba paduan suara FPS ITB jadi agendaku tahun depan, tentu perlombaan membutuhkan kerja keras dan air mata, latihan sampai kau muak dengan partitur serta pengulangan lagu. oh iya, ada satu lagi yang istimewa. lelaki yang kini sedang kupikirkan.

       Manusia yang baik budinya, taat ibadahnya, cerdas pemikirannya, tidak kaku, mudah bergaul, serta hangat. Lelaki yang segera kukagumi semenjak aku mengenalnya. Awalnya aku mengaguminya sebagai inspirator. Aku kagum dengan sosok pemimpin seperti dirinya yang mengayomi namun juga kreatif. Aku sering memberikan kata-kata positif, memujinya di grup whatsapp, karena dia sudah seperti sosok idola yang berada di depan mata. aku mulai mengirimkan cokelat penyemangat yang jadi tradisi kampusku tiap kali mendekati ujian. kukirimkan padanya dan beberapa orang lainnya, namun sepertinya teman-temannya salah mentafsirkan  maksudku mengirimkan cokelat untuk mas ITU. Tiba-tiba terlintas di pikiranku, ya, dia memang "suamiable". tak bisa kubayangkan betapa kelak dia akan menjadi suami yang baik.

       Aku memang baru 19 dan beranjak menuju 20 tahun. Andai saja kampus memperbolehkan mahasiswa untuk menikah mungkin aku akan mulai berpikir untuk mencari pendamping hidup, haha. Terlalu dini untuk mengatakan itu. Mungkin terdengar konyol, tapi pandanganku tentang menikah muda sudah tidak se negatif dulu. Nikah itu harus begini begitu dulu, mapan dulu, dan lain sebagainya. pandanganku sekarang, tak apa menikah muda asalkan keduanya sudah siap, sudah dewasa dalam pemikiran, dan mau berkomitmen. Menikah itu menyempurnakan separuh agama. Menikah dulu, baru pacaran. bisa jadi aku menikah muda tapi tidak memprogramkan untuk mempunyai anak dalam beberapa tahun, menunggu sampai umur yang cukup untuk menimang anak.

       Ini pertama kalinya aku merasakan kekaguman yang mendalam, bahkan sampai ingin menjadi istrinya. kalau jodoh, semoga Allah mendekatkan. pantaskan diri hamba untuk dia Yaa Allah, hamba ingin menikahinya karena agamanya, dan karena akhlaknya.

       

0 komentar:

Poskan Komentar